Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Hafal Alquran Mudah Lupa, Coba Resep Ibnu Abbas dan Imam Syafi'i ini

Ahad 13 Nov 2016 07:30 WIB

Red: Nasih Nasrullah

 Beberapa santri melakukan tilawah sambil menghafal usai sholat ashar di PPPA Daarul Quran, Tangerang, Banten, Rabu (24/2).  (Republika/Wihdan)

Beberapa santri melakukan tilawah sambil menghafal usai sholat ashar di PPPA Daarul Quran, Tangerang, Banten, Rabu (24/2). (Republika/Wihdan)

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, Sahabat Rasulullah SAW yang satu ini tersohor dengan kepakarannya di bidang Alquran. Atas kemahirannya menguasai tafsir Alquran, dia dijuluki dengan gelar turjaman Alquran (penerjemah Alquran). Dia adalah, Ibnu Abbas. 

Namun, tahukah Anda jika dibalik kemahiran ada banyak rahasia yang mengantarkan kesuksesannya. Sahabat yang masih memiliki hubungan darah dengan Rasulullah ini, konon tak pernah melewatkan berdoa agar diberikan kekuatan hafalan. 

Dia menyadari penuh betapa layaknya manusia biasa, rentan mengalami lupa. Apakah doa yang kerap diucapkan Ibnu Abbas untuk menjaga kekuatan memorinya?

Doa tersebut adalah : “Allumma dzakkirni ma nasitu, wah fadz ‘alaiyya ma ‘alimtu, wa zidni ‘illma  (Ya Allah ingatkanlah (perkara) yang aku lupa, jagalah apa yang aku pelajari untukku, dan tambahkan ilmu (baru) untukku.”

Penyakit lupa memang, bisa menghinggapi siapapun. Tidak hanya soal hafalan Alquran, tetapi juga ilmu pengetahuan yang lain. 

Khusus terkait hafalan Alquran pun, Rasul pernah mengingatkan resistensi raibnya hafalan seseorang bila tidak sering di-muraja’ah (diulang-ulang). Rasul mengibaratkannya dengan pemilik unta.

“Perumpaan penghafal Alquran itu seperti pemilik unta yang ditali. Bila dia telah pastikan unta terikat kuat, unta tidak akan kabur. Bila tak diikat sempurna, tentu unta akan mudah melepaskan diri.” (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA). 

Kita juga tentu ingat, bagaimana Imam Syafi’i, tokoh tersohor pencetus Mazhab Syafi’i, juga pernah mengeluhkan kepada sang guru, Imam Waki’, ihwal buruknya hafalan yang dia miliki. 

Sang Guru, menasehati muridnya tersebut agar meninggalkan maksiat. Kisah tersebut seperti yang dinukilkan dari bait syair yang melegenda itu:

Saya mengadu kepada Waki’ buruknya hafalanku

Dia memintaku meninggalkan maksiat

Dia juga memberitahuku bahwa ilmu ada cahaya

Dan cahaya Allah SWT tak akan datang untuk ahli maksiat   

   

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA