Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Presiden Kolumbia Juan Manuel Santos Raih Nobel Perdamaian 2016

Jumat 07 Oct 2016 17:10 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Budi Raharjo

Presiden Kolombi Juan Manuel Santos (depan kiri) dan pemimpin FARC Rodrigo Londono usai menandatangani perjanjian damai di Cartagena, Kolombia yang mengakhiri perang 50 tahun, Senin, 26 September 2016.

Presiden Kolombi Juan Manuel Santos (depan kiri) dan pemimpin FARC Rodrigo Londono usai menandatangani perjanjian damai di Cartagena, Kolombia yang mengakhiri perang 50 tahun, Senin, 26 September 2016.

Foto: AP Photo/Fernando Vergara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Presiden Kolumbia, Juan Manuel Santos, keluar sebagai peraih Nobel Perdamaian 2016 yang diumumkan langsung oleh Komite Nobel Norwegia pada Jumat (7/10). Kemenangan Santos ini atas dedikasinya yang dinilai mampu membawa perdamaian di negaranya.

Terpilihnya Santos sebagai pemenang Nobel Perdamaian cukup kontroversial. Sebab sebelumnya, Kolumbia sempat dikabarkan dicoret dari daftar kandidat peneriman Nobel Perdamaian dikarenakan sebagian besar warga negara Kolumbia menolak berdamai dengan pihak pemberontak FARC.

Komite Nobel Norwegia mengakui penolakan hasil referendum yang menyepakati perdamaian dapat memicu konflik dan perang saudara di negara tersebut. Untuk itu, Komite Nobel Norwegia mendorong Santos dan pemimpin pasukan pemberontak Timochenko dapat berpartisipasi secara konstrukrif dalam pembicaraan damai yang akan datang.

"Panitia berharap bahwa Nobel Perdamaian ini akan memberi Presiden Santos kekuatan untuk menyelesaikan tugasnya. Komite berharap dalam tahun-tahun mendatang, orang-orang Kolombia akan menuai buah dari proses rekonsiliasi," dikutip The Guardian,  Jumat (7/10).

Pihak Komite mengungkapkan, meskipun masyarakat menolak hasil referendum, negosiasi yang dilakukan oleh Santos dengan pihak FARC berhasil membawa konflik berdarah yang selama ini terjadi lebih dekat kepada solusi damai. Hal ini selaras dengan semangat dan tujuan dari Alfred Nobel.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA