Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Di Balik Keceriaan Anak-Anak Rusun Marunda

Rabu 28 Sep 2016 15:28 WIB

Rep: Aprilia Safitri Ramdhani/ Red: Ilham

 Seorang anak bermain sepeda di area rusun Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (11/9).    (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Seorang anak bermain sepeda di area rusun Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (11/9). (Republika/Edwin Dwi Putranto)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari masih siang, dengan tas bergambar Upin-Ipin, Ahmad Fadilla Nur (7 tahun) atau yang akrab disapa Fadil ini sedang asik berjalan bersama sekelompok anak-anak seusianya sambil menaiki puluhan tangga menuju rumahnya. Waktu masih menunjukkan pukul 11.00 WIB, tapi nampaknya anak-anak Sekolah Dasar di sekitar Rusun Marunda, Cilincing, Jakarta Utara kala itu sudah mulai pulang dari sekolah.

Assalamualaikum Ibu, Fadil pulang,” ungkap Fadil saat memasuki pintu rumahnya kala itu. Sang ibu dengan wajah ceria pun menjawab salam anaknya, “Waalaikumsalam, sebentar ya masih goreng tempe. Ganti baju dulu ya nak, terus liatin adek lagi bobo di kamar sudah bangun apa belum?” kata Sri Surtiningsih (29) yang merupakan ibu dari Fadil dan adik kecilnya, Fira saat di temui di Rusun Marunda, Rabu (28/9).
 
Terhitung sudah sejak Februari 2016 lalu, Sri sekeluarga pindah ke Rusun Marunda bersama dengan para warga Kalijodo lainnya. Aktivitas hariannya diisi dengan mengurus kedua anaknya, suami Sri sendiri merupakan seorang petugas keamanan di sebuah mall di Jakarta Timur dengan penghasilan yang pas-pasan.
 
Sejak kepindahannya ke Rusun Marunda, Sri tak lagi bisa berjualan aneka gorengan layaknya di tempat dulu. Selain sudah kerepotan mengurus anak balitanya, ia juga mengaku lapak untuk berjualan dan pembelinya tidak banyak akibat tempat tinggalnya yang bertingkat-tingkat di dalam gedung.
 
“Dulu istilahnya saya dan suami kerja, tapi sekarang suami saja yang kerja. Jadinya penghasilan makin pas-pasan. Susah sih, nggak banyak yang beli kalau dagang soalnya tempatnya begini. Nggak di pinggir jalan kayak waktu di rumah yang dulu,” keluh Sri, sambil bergegas ke kamarnya untuk menggendong di kecil Fira yang sudah bangun dari tidur siangnya.
 
Ia mengaku, pertama kali pindah ke Rusun Marunda tempat tinggalnya ini tidak sesuai dengan ekspektasi akibat lantainya yang masih beralaskan semen. Jauh berbeda dengan rumhanya di Kalijodo dulu yang sudah di pasang ubin putih dan nyaman untuk di tinggali.
 
Tapi, Sri mengaku pasrah karena tidak memiliki pilihan tempat tinggal lain. Beruntung, saat ini sang suami mengakali ubin di rumahnya dengan mamasangkan karpet plastik, agar Fadil maupun Fira bisa belajar dan bermain dengan nyaman saat berada di rumah.

Bagi Sri, saat ini yang paling diutamakan adalah kenyamanan anak-anaknya terlebih dahulu. Menurutnya, sejak awal si sulung Fadil tidak rewel ketika mereka pindah ke Rusun. Fadil sangat mudah beradaptasi dengan penghuni Rusun lainnya, sehingga dengan melihat hal tersebut sudah cukup membuat Sri bahagia, meski kesusahan.
 
“Untung anaknya nggak banyak ngeluh, baru pindah ke sini seminggu temennya udah banyak. Sekolahnya kan juga pindah ke Cilincing, harus naik bus sih, tapi gratis. Anak-anak mungkin nggak berasa (susah), yang berasa mah orang tuanya jadi susah dagang dan jadi lebih jauh mau berangkat kerja,” tambah Sri.
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA