Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Pengamat: Belum Ada Peran Keluarga dalam Pencegahan Terorisme

Kamis 22 Sep 2016 17:07 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Agus Yulianto

Silaturahim keluarga

Silaturahim keluarga

Foto: corbis.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat terorisme Noor Huda Ismail menyatakan, peran keluarga dalam pencegahan aksi terorisme, masih terbilang minim. Padahal, dia meyakini, keluarga dapat membantu mengurangi bibit teroris hingga membatalkan niat teroris melancarkan aksinya.

"Padahal saya lihat justru peran keluarga sangat penting. Misal, dalam film saya disebutkan dengan hubungan baik keluarga menjadi batal jadi teroris. Peran internal keluarga untuk aktif melawan tindakan radikal menjadi sangat penting, terutama peran para ibu. Ini yang belum," katanya, kamis (22/9).

Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian itu menilai, penanganan teroris hanya melibatkan unsur aparat pemerintah. Sehingga peran keluarga menurutnya belum dipandang sebagai sesuatu yang penting dalam pencegahan terorisme.

"Selama ini kampanye yang dilakukan negara dalam penanganan teroris sangat jauh, jauh dari orang biasa untuk terlibat karena penegakan pakai aparat dan densus," ujarnya.

Padahal, dia memandang, pola pencegahan terorisme seperti itu tak lagi efektif. Sebab ia menyebut aksi terorisme sejak tahun 2008 sampai sekarang dilakukan oleh mantan narapidana terorisme. Dari situ, menurutnya, ada yang tidak benar dengan proses radikalisme.

"Sejak tahun 2008 sampai sekarang dilakukan oleh mantan narapidana teroris, ini jadi muter-muter saja kayak daur ulang. Penjara jadi tempat mereka belajar. Karena program rehabilitasi macet, masalah kelebihan penghuni lapas, dana tidak ada. Dan ketika di masyarakat mereka dipojokan tak ada sistem sistematis. Akhirnya, mereka balik lagi ke kelompoknya untuk aktualisasi diri," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA