Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Polo Air

Ini Keterangan Panpel Polo Air Terkait Pemukulan Atlet

Selasa 20 Sep 2016 11:27 WIB

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Israr Itah

Atlet polo air Jabar Made Agung Dwicahya dalam laga semifinal melawan Sumsel, Senin (19/9).

Atlet polo air Jabar Made Agung Dwicahya dalam laga semifinal melawan Sumsel, Senin (19/9).

Foto: Republikafoto/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pertandingan cabang olahraga polo air pada babak semifinal Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Senin (19/9), diwarnai kericuhan. Sesama pemain adu jotos dan oknum aparat TNI mlontarkan pukulan kepada atlet DKI.

Video kericuhan tersebut telah beredar dan menjadi viral di dunia maya. Awalnya video tersebut memperlihatkan atlet polo air dari Jawa Barat dan Sumatera Selatan saling adu jotos di dalam kolam air. 

Kericuhan pun melebar ke tribun penonton. Bahkan aparat keamanan yang berseragam ikut emosi dengan memukuli beberapa penonton.

Saat dikonfirmasi, ketua panitia pelaksana (panpel) polo air Boyke Mulyana membenarkan kericuhan yang terjadi. Boyke menyebutkan keributan memang dimulai dari salah satu atlet polo air dari Sumsel yang terpancing emosi.

Boyke mengatakan baku hantam antar atlet diawali skor tim dari Jawa Barat yang menyusul jauh Sumsel pada babak kedua.

"Awalnya Jabar kalah dulu 2-0 di babak pertama. Akhirnya ngejar 6-2. Mungkin pertandingan agak keras terjadilah cekcok mulut. Sampai akhirnya ada pemukulan yang didahului dari atlet Sumsel," kata Boyke saat dihubungi, Selasa (20/9).

Terpancing emosi atlet, ia menyebutkan keributan juga sampai di tribun penonton juga. Termasuk suporter DKI Jakarta yang kebetulan ada di lokasi.

Boyke mengatakan saat itu, panitia langsung mencoba meredam kericuhan yang terjadi. Atlet yang memulai pemukulan juga langsung dikeluarkan dari laga pertandingan. 

Setelah itu, ujar dia, pertandingan pun dilanjutkan kembali. Hingga Jabar memenangi pertandingan.

"Kami menyerahkan kepada wasit. Kalau tidak beres ini dua-duanya diskors. Tapi kemudian suasana kondusif dan semua mengakui akhirnya dilanjutkan dengan Jabar sebagai pemenang kemarin," tuturnya.

Ke depannya, pihaknya mengaku akan mengantisipasi peningkatan keamanan. Panpel telah meminta bantuan tambahan keamanan dari aparat TNI dan kepolisian.

Terkait insiden anggota berseragam TNI yang terlibat pemukulan, Boyke enggan berkomentar. Boyke mengaku tidak melihat secara langsung.

"Saya kurang tahu TNI atau tidak. Saya tidak lihat berseragam hijau atau tidak. Mereka mencoba mengamankan aja. Ada polisi juga kan," ujarnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA