Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Musuh Ukhuwah yang Paling Berbahaya

Jumat 05 Aug 2016 11:50 WIB

Red: Irwan Kelana

KH Didin Hafidhuddin

KH Didin Hafidhuddin

Foto: ROL/Sadly Rachman

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Mengapa putra Nabi Adam, Qabil, membunuh saudaranya sendiri yang bernama Habil? Mengapa saudara-saudara Nabi Yusuf membenci dan berupaya mencelakakan Nabi Yusuf dengan cara menceburkannya ke dalam sumur? Mengapa Abu Lahab sangat membenci Nabi Muhammad SAW dan melakukan berbagai tipu daya untuk mencelakakan Nabi Muhammad?

Menurut Guru Besar IPB Bogor Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, semua itu terjadi karena sifat hasud atau iri/dengki. “Sifat dengki-lah yang mendorong Qabil membunuh Habil, karena Habil mendapatkan jodoh gadis yang lebih cantik. Sifat dengki yang mendorong saudara-saudara Nabi Yusuf membenci dan berupaya mencelakakan Nabi Yusuf,” tutur Kiai Didin saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/8).

Kiai Didin menambahkan, sifat dengki pula yang mendorong paman Nabi Muhammad, yakni Abu Lahab, melakukan segala tipu daya untuk mencelakan Rasulullah SAW. “Bahkan Abu Lahab mengajak istrinya untuk bersama-sama memusuhi dan mencelakakan Nabi Muhammad,” tutur Kiai Didin.

Kiai Didin mengungkapkan, tidak jarang sifat hasud itu juga muncul di kalangan ormas Islam. “Ada ormas Islam yang tidak senang kalau ormas Islam yang lain meraih suatu prestasi tertentu. Misalnya dalam bidang pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya,” ujar Didin.

Didin menegaskan, sifat hasud tersebut sangat berbahaya. “Hasud merupakan sifat yang paling berbahaya. Penyakit ukhuwah Islam yang paling berbahaya  dan paling dashyat adalah hasud,” kata Kiai Didin.

Karena itu, Didin menambahkan, orang-orang beriman harus berusaha sekeras mungkin untuk menghindari dan menghilangkan sifat hasud tersebut. “Rasulullah mengemukakan, tidak sempurna iman seseorang hingga ia mampu mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Hadits ini menekankan agar orang-orang beriman menghindari dan menghilang sifat hasud,” paparnya.

Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Hujurat, bahwa sesama Muslim itu bersaudara (ikhwah). Karena itu, sesama Muslim harus saling berdamai. “Ikhwah itu tidak sekadar berarti saudara. Lebih dalam dari itu, ikhwah artinya saudara sedarah. Jadi sesama Muslim itu ibarat saudara sedarah. Saudara ideologis karena sama-sama Mukmin dan Muslim,” tutur Kiai Didin.

Kiai Didin mengemukakan, umat Islam itu ibarat keluarga besar. “Walaupun berbeda-beda organisasi atau ormas harus saling menjaga, jangan saling dengki. Prinsipnya adalah ‘Anda bagian dari kami. Kami bagian dari Anda’,” ujarnya.

Begitu dahsyatnya dampak hasud, kata Kiai Didin, sehingga sifat yang paling besar di surga nanti adalah dicabutnya sifat hasud. “Nikmat yang paling besar di surga nanti adalah dicabutnya sifat dengki. Di surga tidak ada orang yang hasud, tidak ada permusuhan, semua hidup damai," papar KH Didin Hafidhuddin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA