Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Inilah 4 ‘Password’ Surga

Jumat 05 Aug 2016 10:11 WIB

Red: Irwan Kelana

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS (kiri).

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS (kiri).

Foto: Irwan Kelana/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Tidak sembarang orang bisa masuk surga Allah di akhirat nanti. Hanya atas izin dan kasih sayang Allah SWT. Untuk itu, Allah dan Rasul-Nya memberikan tuntunan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar bisa menjadi ahli surga.

“Dalam salah satu hadits Rasulullah SAW disebutkan ada empat password atau kunci untuk masuk surga,” kata Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani di  Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/8/2016) pagi.

‘Password’ pertama, kata Kiai Didin, membudayakan salam. “Ucapkanlah salam setiap kali bertemu keluarga, kerabat dan sahabat. Sebab, ucapan salam dalam Islam, yakni ‘assalamu’alaikum warahamtullahi wabarakatuh” mengandung doa, bukan dianjurkan mengucapkan salam untuk para penghuni kubur tersebut,”  ujar  Kiai Didin yang juga Guru Besar IPB Bogor itu.

Ucapan salam, Kiai Didin menambahkan, juga berarti menebarkan kedamaian kepada orang lain. “Melalui ucapan salam, kita tebarkan kedamaian, dan kita cegah permusuhan,” tutur Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor itu.

‘Password’ kedua, kata Kiai Didin, memberi kepada orang lain yang membutuhkan. “Rasulullah SAW menegaskan, tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Karena itu, marilah kita menjadi orang yang mudah memberi atau bersedekah kepada orang-orang memerlukan,” papar Kiai Didin.

Kiai Didin menambahkan ‘password’ ketiga, adalah menghubungkan tali silaturahim, memperkuat ukhuwah, menebarkan kasih sayang di antara sesama Muslim. “Menghubungkan silaturahim itu tidak selalu mudah. Butuh waktu, tenaga dan pikiran,” ujar Kiai Didin.

‘Password’ keempat, kata Didin, mendirikan shalat Tahajud (qiyamullail) pada sepertiga malam, ketika orang-orang lain tengah tertidur. “Libatlakanlah Allah dalam segala urusan kita. Jangan hanya bergantung pada pikiran atau logika. Waktu terbaik untuk melibatkan Allah dalam kehidupan kita adalah saat Tahajud. Itulah saat terbaik bagi kita untuk mendekatkan diri dan memohon kepada Allah,” tuturnya.

Kiai Didin mengajak para jamaah untuk mendorong seluruh anggota keluarga agar merutinkan Tahajud. “Seperti kata Nabi, kalau suami bagun duluan, maka bangunkanlah istri untuk Tahajud. Begitu pula sebaliknya, kalau istri bangun duluan untuk Tahajud, maka bangunkanlah suami untuk bersama-sama melaksanakan shalat Tahajud,” papar Kiai Didin Hafidhuddin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA