Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Desentralisasi Pertumbuhan Harus Didukung IT

Rabu 03 Aug 2016 20:56 WIB

Red: Irwan Kelana

Perdana Menteri (PM) Malaysia  Najib Razaq, Menteri Keuangan Sri Mulyani , Ketua Bappenas Bambang Brodjonegoro,  Ketua WIEF Tun Musa, dan Chairman  Aladdin Dotkom Indonesia Ahmad Riawan Amin berfoto bersama seusai penandatangan MoU  Halal E-Market Malaysia di sela-sela WIEF ke-12 di Jakarta, Selasa (2/8/2016).

Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razaq, Menteri Keuangan Sri Mulyani , Ketua Bappenas Bambang Brodjonegoro, Ketua WIEF Tun Musa, dan Chairman Aladdin Dotkom Indonesia Ahmad Riawan Amin berfoto bersama seusai penandatangan MoU Halal E-Market Malaysia di sela-sela WIEF ke-12 di Jakarta, Selasa (2/8/2016).

Foto: Dok Aladdin DotKom

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) ke-12 yang saat ini digelar di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, 2-4 Agustus 2016, 12 mengusung tema “Decentralizing Growth and Empowering Future Business”.

Terkait tema besar tersebut, Chairman Aladdin DotKom Indonesia Ahmad Riawan Amin mengatakan, desentrasi pertumbuhan tersebut perlu melibatkan information technology (IT). “Upaya mendesentralisasi pertumbuhan sampai ke daerah daerah hanya bisa dilakukan dengan IT,” kata Riawan Amin kepada Republika.co.id, Rabu (3/8/2016).

Riawan yang juga mantan Direktur Utama Bank Muamalat menyebut contoh sukses Bank Muamalat dalam menggenjot jumlah nasabah dan transaksi melalui peluncuran kartu Shar-E bekerja sama dengan Pos Indonesia yang memiliki jaringan ribuan kantor di seluruh wilayah Indonesia.

“Produk kartu Shar-E yang diluncurkan oleh Bank Muamalat terbukti sukses.  Keberadaan kartu Shar-E tersebut  dalam  waktu yang sangat cepat mendesentralisasi pertumbuhan ekonomi syariah sampai ke pelosok-peloksok,  tanpa membuka cabang-cabang Muamalat yang membutuhkan biaya  mahal,” tutur Riawan.

Riawan menambahkan, hal ini juga sejalan dengan kampanye Financial Inclusion dan branchless banking yang dikampanyekan  oleh Bank Indonesia (BI)  dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menyinggung  “Empowering Future Business”, kata Riawan,  dapat berarti dua  hal. Pertama, mengangkat harkat usaha mikro kecil menengah (UMKM)  yang kesulitan akses pasar, menghalalkan produknya  dan memperbaiki prosesnya.

“Kedua, membantu pemerintah atau Majelis Ulama Indonesia (MUI)  merekrut pengusaha-pengusaha  baru yang telah memenuhi syarat-syarat halal,” tutur Ahmad Riawan Amin.

World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12dibuka secara resmi oleh Presiden Jokowi di Jakarta, Selasa (2/8/2016). WIEF ke-12 akan berlangsung hingga Kamis (4/8/2016).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA