Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Jenderal Kamboja Dicopot karena Menolak Ditilang

Jumat 01 Jul 2016 10:33 WIB

Red: Ani Nursalikah

Letnan Jenderal Mam Srimvanna dari Kamboja (kiri) berfoto bersama polisi lalu lintas Sout Kanha, Kamis, 30 Juni 2016. Foto tersebut diunggah di laman Facebook PM Kamboja Hun Sen. Perdana Menteri Kamboja Samdech Techo Hun Sen pada Kamis (30/6) mencopot jaba

Letnan Jenderal Mam Srimvanna dari Kamboja (kiri) berfoto bersama polisi lalu lintas Sout Kanha, Kamis, 30 Juni 2016. Foto tersebut diunggah di laman Facebook PM Kamboja Hun Sen. Perdana Menteri Kamboja Samdech Techo Hun Sen pada Kamis (30/6) mencopot jaba

Foto: Cambodia Daily

REPUBLIKA.CO.ID, PHNOM PENH -- Perdana Menteri Kamboja Samdech Techo Hun Sen pada Kamis (30/6) mencopot jabatan Letnan Jenderal Mam Srim Vanna karena menghina seorang polisi lalu lintas (Polantas) dan menolak ditilang oleh polisi tersebut.

Namun pada hari yang sama, Hun Sen kemudian mengembalikan Mam Srim Vanna ke jabatannya semula, yaitu Wakil Direktur Jenderal Departemen Imigrasi.

Hun Sen pada Kamis pagi sudah menandatangani perintah mencopot Vanna dari posisinya setelah pejabat tersebut menghina seorang polisi lalu lintas ketika keduanya berdebat soal pelanggaran hukum.

"Untuk memberikan kesempatan kepada pejabat tersebut (Letjen Vanna), yang telah melayani negara dengan penuh pengabdian dan telah mengakui kesalahannya, saya memutuskan membatalkan perintah yang saya tandatangani pagi ini menyangkut kasus Jenderal Mam Srim Vanna," kata perdana menteri di laman Facebooknya.

Jabatan Letjen Vanna dikembalikan lagi setelah ia pada Kamis bertemu dengan polisi lalu lintas yang dihinanya dan menyampaikan permohonan maaf kepada petugas kepolisian tersebut.

Vanna terlibat argumentasi dengan sang Polantas ketika ia melanggar lampu merah saat menyetir mobil di Phnom Penh pada Senin dan menolak ditilang polisi tersebut, demikian menurut cuplikan video yang diunggah di media sosial.

Sang jenderal menghina dengan menyebut polantas tersebut sebagai "Polisi lalu lintas Ar". Ar adalah kata hinaan untuk menyebut anak-anak atau anak muda.

Hun Sen menegaskan pemakaian kata itu tidak hanya menghina bawahan tapi juga berarti memandang rendah keseluruhan unit polisi lalu lintas.

 

sumber : Antara news
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA