Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Musibah Angin Puyuh yang Menjadi Berkah

Selasa 21 Jun 2016 12:57 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Aktivitas masyarakat desa Cigalontang dalam program Lumbung Desa.

Aktivitas

Foto:

Tahun ini, genap dua tahun kemitraan terjalin antara Sinergi Foundation (SF) dengan masyarakat Cigalontang. Bermula aksi kemanusiaan SF, sebagai respon atas bencana angin puyuh tahun 2014 lalu, yang meluluhlantakkan Desa Cibaeud dan sekitarnya, benih kepedulian itu mulai disemai.

CEO SF Ima Rachmalia mengatakan kemitraan yang terjalin ini tidak lepas dari peranan Ustaz Gugun. Di Kampung Cibaeud, kiprah pemuda sederhana itu nyaris tak ada yang menyangsikan.  Ustaz Gungun pula, beserta beberapa mitra lainnya yang menyambut antusias gagasan program Lumbung Desa yang ditawarkan SF, sebagai upaya bersama mengembalikan desa pada khittahnya: Desa berdaulat, yang dibangun petani bermartabat.

“Sebagian warga Kampung Cibaeud terkategori dhuafa, lantaran berstatus sebagai petani penggarap, bukan pemilik lahan. Di sana juga ada para jompo yang sudah tak produktif yang perlu disantuni. Di sinilah fungsi sosial Lumbung Desa hadir sebagai solusi atas ragam problematika sosial yang mengemuka,” ujar Ima.

Program Lumbung Desa berbentuk gerakan pembentukan usaha produktif (community enterprise) berbasis kepada lokal pedesaan, seperti: sawah, kebun, ternak maupun industri rumahan. Upaya ini diwujudkan melalui proses peningkatan produksi, pengelolaan, hingga pemasaran.

Ima menceritakan bukan hal mudah merajut ukhuwah di tengah masyarakat yang sudah apatis dengan program-program manis, berujung pamrih untuk kepentingan  individu/ golongan tertentu. Bukan pula perkara sederhana, meyakinkan mereka bahwa program Lumbung Desa ini adalah murni sebuah inisiatif untuk mengembalikan desa pada khittah-nya, sebagai sumber pangan dan kearifan lokal negeri tercinta.

Perlahan, kepercayaan itu tumbuh, setelah interaksi berlangsung intensif. Awalnya hanya sekitar 20-30 warga yang tergabung sebagai mitra kelompok Lumbung Desa Al Hidayah. Seiring waktu berjalan, anggota kelompok bertambah signifikan mencapai 157 jiwa.

Berbagai aktivitas usaha produktif telah dilakukan, semisal: Pertanian, beserta penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan), peternakan, hingga pembangunan huler, juga lumbung, yang berfungsi penyimpanan cadangan pangan.
Ubi Cilembu yang tengah digarap di lahan sebesar 1,2 hektare, diperkirakan akan menghasilkan 24 ton ubi di musim panen 3 bulan mendatang. Jika hasil panen nanti bisa tembus ke konsumen akhir langsung, maka laba kotor di atas kertas nyaris mencapai Rp 500 juta.

Meski begitu, Ima mengakui, perjalanan program Lumbung Desa di Kampung Cibaeud ini, masih cukup panjang. Sampai dengan akhir 2015 lalu, penyaluran dana program mencapai angka Rp 350 juta. Dana ini dialokasikan antara lain untuk pembangunan lumbung, pembelian lahan, pembangunan huler beserta pengadaan mesinnya, juga penyaluran modal usaha  untuk mitra kelompok. Adapun total penerima manfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung, mencapi 440 jiwa dari 110 Kepala Keluarga di sana.

Menjejak tahun 2016, pembenahan administrasi dan penataan kelembagaan lumbung (institutional building) menjadi agenda utama, sebelum Cibaeud menjadi kampung yang mandiri, berdaya, berdaulat pangan, kelak.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA