Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Pendidikan adalah Nasi Bungkus, Keluargalah Karet Gelangnya

Senin 13 Jun 2016 05:55 WIB

Red: Israr Itah

Keluarga

Keluarga

Foto: RMV

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Shesar Andriawan, Blogger

Jacques Henrij Abendanon agaknya tidak akan pernah punya kesempatan membukukan Door Duisternis Tot Licht. Tidak akan pernah terjadi jika bukan karena sosok Raden Mas Panji Sosrokartono. 

Kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu tidak punya peran langsung. Tapi andilnya bagi daya berontak Kartini tidaklah remeh temeh.

Adalah buku-buku,majalah-majalah, juga buletin-buletin yang membuat Kartini berontak pada keadaan wanita Jawa masa itu. Kakak Rukmini dan Kardinah itu menolak pembelengguan wanita. Bagi Kartini, wanita lebih dari sekedar macak, masak, manak (dandan, masak, melahirkan). Kartini adalah seorang feminis.

Kartono, sang kakak, sosok paling bertanggung jawab pada pemberontakan dalam diri Kartini. Buku, majalah, dan buletin yang jadi bahan bakar pemberontakan Kartini sebagian banyak hasil kiriman kakaknya. 

Saat mulai menjalani pingitan pada usia 13 tahun, Kartini tengah berduka. Duka karena keinginannya melanjutkan sekolah ke Hogere Burger School, Semarang ditolak ayahanda. Kartono sedikit nan perlahan melegakan ganjalan hati adiknya dengan rutin membawa pulang banyak bacaan ke Jepara untuk dikonsumsi Kartini bersama Rukmini dan Kardinah.

“Semua itu membuka khazanah Kartini tentang sosial dan politik,” kata Sitisoemandari dalam pengantar buku Kartini: Sebuah Biografi.

Lembar demi lembar disantap trio gadis itu. Kartini memang yang paling cerdas. Juga paling gelisah. Ia kerap bersurat kepada Stella Zeehandelaar, sesama feminis asal Eropa, mencurahkan kegalauannya. Juga bersurat kepada teman-teman penanya di Eropa. J.H. Abendanon mengompilasinya jadi sebuah buku. Armijn Pane menerjemahkannya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Keluarga jadi lingkungan penting bagi pendidikan Kartini. Ibu Raden Mas Soesalit itu mencintai dua pria sepenuh hati: Sosroningrat sang ayahanda dan Sosrokartono sang kakanda.

Sosroningrat menyekolahkan sebelas anaknya. Kartini lulus Europeesche Lagere School kendati tidak diizinkan melanjutkan ke HBS. Sosroningrat takluk oleh adat Jawa masa itu yang mewajibkan anak perempuan dipingit dan segera dikawinkan. Namun Bupati Jepara itu menebus dosa dengan membebaskan Kartini membaca bermacam tulisan feminisme dan sosialis yang kekinian pada masa itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA