Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Penderita Talasemia Disarankan tak Menikah dengan Sesama Penderita

Kamis 19 May 2016 19:42 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Andi Nur Aminah

Grafik Thalasemia

Grafik Thalasemia

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Semakin membesarnya jumlah penderita talasemia di negeri ini salah satu pemicunya ditengarai karena banyak penderita talasemia menikah dengan sesama penderita. Akibatnya, keturunan yang dilahirkan dari pernikahan tersebut bisa dipastikan juga menderita talasemia. 

Ketua Yayasan Thalasemia Indonesia, Ruswadi, menyebut jumlah penderita talasemia mayor yang ditandai dengan kebutuhan transfusi darah secara rutin saat ini sudah mencapai 7.238 penderita. Ruswadi menjelaskan, penyakit talasemia terbagi dalam dua jenis, yakni talasemia mayor dan talasemia minor. 

Menurut dia, penderita talasemia minor tidak memiliki gejala penyakit apa-apa. Ini yang dalam istilah medis sebagai orang yang membawa sifat. Sedangkan, penderita talasemia mayor adalah penderita yang gejala penyakitnya terlihat.

Dengan gejala penyakit yang demikian berat, Ruswadi menyatakan, cara yang bisa dilakukan adalah dengan mencegah agar jumlah penderita talasemia tidak terus bertambah. Satu-satunya cara adalah dengan mencegah pernikahan antarpenderita talasemia minor atau pembawa sifat talasemia.

Untuk mengetahui seseorang menderita talasemia minor atau tidak, bisa dilakukan melalui tes darah, yakni dengan melakukan analisis sel darah merah Hb (hemoglobin). "Untuk itu, seseorang yang hendak menikah sebaiknya melakukan tes darah lebih dulu. Bila kedua calon mempelai menderita talasemia, sebaiknya rencana pernikahan dipertimbangkan kembali," katanya.

Talasemia mayor ditandai dengan munculnya gejala anemia. Penderitanya akan mudah lelah, lesu, dan mudah terserang penyakit. Selain itu, organ dalam tubuh juga terdampak, ditandai dengan pembesaran hati dan limpa. "Satu-satunya cara mengatasi gelajanya hanya dengan melakukan transfusi darah. Sebagai penyakit keturunan, penyakit ini tidak bisa diobati," jelasnya.

Namun, dia menyebut, transfusi yang terus-menerus juga sering kali menyebabkan komplikasi pada jantung, limpa, hati, dan otak karena zat besi akan menumpuk dalam tubuh penderita. "Namun, saat ini ada obat yang bisa digunakan untuk mengatasi menimbunnya zat besi," jelasnya.

(Baca Juga: Jumlah Penderita Talasemia Terus Meningkat)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA