Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

2.500 Pengungsi Hilang Misterius di Finlandia

Ahad 15 May 2016 10:15 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nur Aini

Banyak pengungsi terpisah dari anggota keluarga mereka saat melakukan perjalanan ke Eropa.

Banyak pengungsi terpisah dari anggota keluarga mereka saat melakukan perjalanan ke Eropa.

Foto: on islam

REPUBLIKA.CO.ID, HELSINKI -- Sekitar 2.500 pencari suaka dilaporkan hilang dari pusat penerimaan migran di Finlandia, Sabtu (14/5). Saluran televisi MTV3 mengutip informasi dari polisi dan otoritas lokal.

Mereka mengatakan tidak punya petunjuk sama sekali terkait 2.500 migran tersebut. Bagaimana mereka hidup dan identitas mereka tidak diketahui dengan pasti. Semua kontak telah hilang.

"Ini sangat mengkhawatirkan, kita tidak tahu siapa mereka, bagaimana mereka tiba di sini dan bagaimana mereka hidup sekarang," kata Kepala Pusat Biro Penyelidikan, Sanna Palo dikutip RT.

Apalagi, kata dia, jika mereka tidak mengajukan status suaka namun tetap tinggal di Finlandia. Palo mengatakan sejumlah orang yang hilang datang dengan dokumen palsu atau bahkan tanpa dokumen.

Dikutip Suddeutsche Zeitung pada Februari, ini bukan pertama kalinya pencari suaka hilang dari pusat penerimaan Eropa. Sekitar 13 persen dari migran yang masuk Jerman pada 2015 tidak pernah terlihat lagi setelah diberi akomodasi yang disediakan untuk mereka.

Kepala Kantor Federal Jerman untuk Migrasi (BAMF), Frank-Jurgen Weise mengatakan 400 ribu pencari suaka di Jerman tidak punya dokumen identitas. Otoritas Jerman juga tidak bisa mengidentifikasi mereka.

Jerman menerima sekitar 1,1 juta pengungsi pada 2015, sebagian besar dari Timur Tengah dan Afrika Utara. Sedikitnya 5.835 pengungsi anak-anak juga dilaporkan menghilang di Jerman tahun lalu. Sebanyak 555 anak di antaranya berusia lebih muda dari 14 tahun.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Johannes Dimroth mengatakan angka-angka ini kemungkinan lebih besar dan terus meningkat. Menurut Die Welt, sebagian besar berasal dari Afganistan, Suriah, Eritrea, Maroko dan Algeria.

Sementara menurut Europol melalui intelegen kriminal Uni Eropa, sedikitnya 10 ribu anak tak ditemani orang dewasa ketika tiba di Eropa. Tinggi kekhawatiran mereka akan jatuh ke tangan sindikat perdagangan.

"Tidak semua mungkin dieksploitasi, mungkin ada juga yang kembali ke keluarganya, kami hanya tidak tahu dimana mereka dan apa yang mereka lakukan sekarang," kata kepala staf Europol, Brian Donald.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA