Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Bentuk Lain Perundungan yang Lebih Menakutkan

Kamis 05 May 2016 06:06 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Erdy Nasrul

Erdy Nasrul

Foto: dok pribadi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul, pewarta Republika
                         Email: erdy_nasrul007@yahoo.com

Belum lama ini dunia pendidikan kita dihebohkan dengan video perundungan (bullying) sejumlah pelajar SMAN 3 Jakarta. Aksi biadab itu dilakukan pelajar senior. Korbannya adik kelas mereka.

Perundungan ini bukan berupa kekerasan fisik. Korban dipermalukan dengan disuruh mengenakan pakaian dalam. Mereka kemudian dipaksa merokok.

Aksi itu direkam dalam bentuk video oleh salah seorang pelaku. Adegan perundungan itu disebarkan melalui dunia maya. Pengguna internet kemu‎dian bereaksi.

Perundungan ini tak seperti yang terjadi di SMAN 70 Jakarta September dua tahun lalu. Kasus yang terjadi pada 2014 itu berbentuk penganiayaan. Perundungan dalam bentuk kekerasan fisik juga terjadi di SMA Seruni Don Bosco, Jakarta Selatan.

Kekerasan fisik di dua sekolah itu mengakibatkan luka lebam. Dampaknya terlihat secara kasat mata. Korban merasakan sakit.

Berbeda dengan perundungan dalam bentuk mempermalukan, seperti yang terjadi di SMAN 3‎. Korbannya tak terlihat terluka. Namun, pasti ada perubahan sikap korban. Dalam pergaulan sehari -hari. Korban bisa jadi akan bersikap tertutup, bahkan akhirnya kehilangan rasa percaya diri.

Perundungan seperti ini bukan lagi merusak fisik, tetapi mental. Inilah bentuk lain perundungan yang lebih menakutkan.

T‎radisi tak beradab ini bermula dari rasa menguasai. Siswa yang duduk di kelas tinggi menunjukkan eksistensinya sebagai penguasa. Yang lebih junior dari mereka harus tunduk. Senior tak pernah salah. Junior selalu disalahkan.

Tak ada rasionalitas. Yang ada hanya senioritas. Menjadi senior adalah kebanggaan, karena bisa mengarahkan adik kelas seenaknya.

Gambaran sekolah yang menjadi tempat kejadian perundungan ini menakutkan orang tua. Sekolah telah mengkhianati amanah ayah dan ibu siswanya.

Orang tua menitipkan anak untuk didik. Eh, bukannya diberi ilmu, anak justru diberi tinju. Bukannya diberi pengetahuan, anak justru dihadiahi pukulan. Seperti inilah suasana sekolah yang marak perundungan.

Tak heran bila Mendikbud Anies Baswedan mengkhawatirkan kekerasan di sekolah. Saat mengunjungi Republika beberapa waktu lalu dia mengatakan 84 persen peserta didik pernah mengalami kekerasan di sekolah. Angka itu didapatnya dari The International Center for Research on Women (ICRW) 2015.

Pemerintah sudah berupaya mencegah tradisi ini. Sayangnya, ada saja kasus serupa yang terjadi di tempat lain.

Saya berprasangka sekolah yang muridnya mempraktikkan perundungan ingin menerapkan pendidikan Sparta. Cendikiawan Mahmud Yunus dalam Tarbiyah wa Ta'lim karangannya menyebutkan pendidikan ini berorientasi pada fisik. Siswa dilatih fisiknya agar kuat. Jadilah pasukan tangguh yang membunuh banyak prajurit Persia.

Mungkin murid-murid yang terlibat perundungan ingin seperti pasukan pembunuh itu. Mereka ingin berperang secara fisik di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang terus berkembang.‎

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA