Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Mudah Capek? Waspadai Sindrom Kelelahan Kronis

Rabu 06 Apr 2016 06:12 WIB

Rep: C34/ Red: Indira Rezkisari

Kelelahan parah yang terus menerus mungkin pertanda sindrom kelelahan kronis.

Kelelahan parah yang terus menerus mungkin pertanda sindrom kelelahan kronis.

Foto: pixabay

REPUBLIKA.CO.ID, Waspadalah jika Anda mengalami kelelahan parah yang terus-menerus dan tidak hilang dengan istirahat. Bisa jadi itu adalah sindrom kelelahan kronis alias Chronic Fatigue Syndrome (CFS), di mana kelelahan ekstrem yang Anda rasakan bisa terus memburuk dengan aktivitas fisik atau mental.

CFS diyakini memengaruhi sekitar satu juta orang di Amerika dan sekitar 250.000 orang di Inggris. Pengidapnya bahkan hanya mampu bangkit dari tempat tidur selama setengah jam sehari dan cuma memiliki energi untuk sekadar menyikat gigi atau mengunyah makanan.

Lebih dari tiga dekade terakhir, CFS kurang dianggap dalam dunia medis. Hal itu disebabkan rekam sejarah pada tahun 1955 ketika CFS tiba-tiba mewabah di Royal Free Hospital, London.

Penyakit epidemi yang membingungkan itu mempengaruhi sekitar 300 orang dan menyebabkan penutupan rumah sakit selama tiga minggu. Penyebabnya belum diketahui secara pasti tetapi temuan patologi mengindikasi adanya peradangan di otak dan sumsum tulang belakang.

Dua dekade kemudian, pada 1980-an, psikiater di AS dan Inggris terlibat dalam penelitian tentang CFS di Nevada. Hasilnya, CFS disebut sebagai psikogenik, di mana para pasien percaya mereka benar-benar sakit dan mengondisikan dirinya lelah.

Namun, para ilmuwan mendapati keanehan ketika gelombang CFS menjangkiti tentara yang kembali dari perang teruk pada tahun 1990-1991 Teluk. Adanya anggota keluarga yang tertular CFS mendukung simpulan bahwa infeksi menjadi salah satu akar penyebab CFS.

Jose Montoya, seorang profesor dan pakar penyakit di Stanford University percaya bahwa sekitar 80 persen dari pasien CFS yang ia tangani mengalami kondisi yang memburuk akibat infeksi. Namun, karena beberapa dari mereka tidak segera berkonsultasi sampai berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, bakteri atau virus jauh bersembunyi di dalam sel-sel tubuh sehingga tes darah standar tak menemukan apa yang salah.

Tapi, kepastian soal adanya beberapa orang yang tidak mengalami infeksi masih menjadi pertanyaan besar. Kemungkinan faktor genetik hingga patogen baru yang belum teridentifikasi masih terus didalami oleh para peneliti.

"Ini adalah penyakit yang memerlukan penelitian dan perhatian serius, saya percaya kita akan tahu jawaban dalam lima sampai 10 tahun ke depan," kata Montoya, dikutip dari laman Hitc.

(baca: 4 Kesalahan Umum yang Berdampak Buruk Bagi Kesehatan)

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA