Wednesday, 10 Rajab 1444 / 01 February 2023

Siapa yang Paling Bahagia?

Jumat 01 Apr 2016 17:00 WIB

Red:

Koran Republika (16/3/2016) memberitakan tentang penobatan negara Denmark oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai negara paling bahagia di dunia dalam sebuah laporan bertajuk World Happiness 2016.

Denmark yang memiliki populasi 5,6 juta orang ini telah menempati  posisi negara terbahagia sebanyak dua kali sejak PBB mulai mengukurnya pada 2012. Tolok ukur penobatannya ini dengan menggunakan enam kategori kunci, yaitu produk domestik bruto atau GDP per kapita, dukungan sosial, kesehatan, kebebasan pribadi, pemberian amal, dan tingkat korupsi yang dirasakan.

Namun, sebagai umat beragama, khususnya umat Islam, kita jangan kagum dengan penobatan tersebut. Apalagi, menjadikan negara Denmark sebagai rujukan kita untuk mencapai kebahagiaan berdasarkan enam kategori kunci saja seperti yang disebutkan di atas dikarenakan fakta-fakta sebagai berikut.

Pertama, negara Denmark dikenal dengan julukan land of swingers, negeri para swinger. Swinger adalah julukan bagi orang yang suka berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual yang direstui oleh pasangan sahnya yang kebanyakan swinger juga.

Banyak tulisan artikel dan berita tentang negara Denmark sebagai negeri para swinger. Salah satu tulisan terbaik yang merekam kegiatan para swinger di Denmark yang saya kutip adalah tulisan Helen Russel yang berjudul "Denmark, land of the swingers".

Tulisannya ini merupakan hasil pengamatannya ketika melakukan perjalanan di Denmark yang dapat kita baca di situs telegraph.co.uk. Russel mengisahkan bahwa di Denmark, perempuan telanjang secara teratur muncul di halaman-halaman surat kabar utama, film porno diputar di televisi publik, dan pantai kaum nudis begitu umum. Para lajang bisa tidur dengan siapa saja yang mereka suka tanpa stigma sosial, dan orang-orang dalam ikatan pernikahan tidak dibelenggu oleh seks dengan orang yang sama selamanya.

Dengan beberapa tingkat perceraian tertinggi di Eropa, sebagian besar orang Denmark menyiasati masalah ingin tidur dengan orang lain, selain pasangan mereka, dengan melakukannya secara terpisah, tidak di satu tempat dan dengan berpindah-pindah.

Kedua, banyaknya jumlah para swinger ini menyebabkan tingkat perselingkuhan di Denmark menjadi tinggi dan menempatkan Denmark sebagai negara dengan tingkat perceraian tertinggi ketiga di Eropa setelah Finlandia dan Swedia, seperti yang dilansir oleh sciencenordic.com.

Cukup dua hal di atas saja membuat orang-orang yang taat dengan agamanya, yang memegang teguh norma, moralitas, dan kesusilaan, akan mempertanyakan kembali arti, konsep, dan tolok ukur kebahagiaan yang digunakan oleh PBB sekarang ini, yang jelas sangat sekuler dan materialistis yang memaknai kebahagiaan hanya pada urusan makan, minum, dan pemenuhan kebutuhan biologis, persis seperti binatang ternak.

Jika PBB memasukkan ketaatan menjalankan ajaran agama dan kepatuhan terhadap norma, moralitas, dan kesusilaan sebagai kategori kunci yang kedelapan dan kesembilan, dapat dipastikan bahwa negara Denmark tidak akan dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia.

Bagi umat Islam sendiri, arti, konsep, dan tolok ukur kebahagiaan itu sudah sangat jelas, seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali di dalam risalahnya yang berjudul "Kimiya Sa`adah" (Kimia Kebahagian).

Di dalam risalahnya tersebut, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa kebahagiaan itu berbeda-beda bagi setiap makhluk hidup. Ada yang bahagia bila terpenuhi urusan makan, minum, dan segala kebutuhan biologisnya. Ini adalah kebahagiaan kelompok binatang ternak (baha'im).

Ada yang merasa bahagia bila berhasil melakukan penyerangan, bisa mengalahkan, dan bahkan membunuh lawan. Ini adalah kebahagiaan bagi kelompok binatang liar (siba'). Ada yang merasa bahagia dengan melakukan tipu daya dan muslihat. Ini adalah kebahagiaan bagi setan. Sementara, kebahagiaan bagi para malaikat adalah kebahagiaan bisa taat kepada Tuhan sepenuhnya, tanpa bisa membangkang, tidak memiliki syahwat, dan tidak pernah marah.  

Masih menurut Imam al-Ghazali bahwa kebahagiaan sejati dapat diraih dengan memperhatikan tiga hal dalam diri kita, yaitu kekuatan amarah, kekuatan syahwat, dan kekuatan ilmu. Untuk mencapai kebahagiaan, orang harus mengurangi dan mengelola sedemikian rupa kekuatan amarah dan kekuatan syahwatnya. Jika tidak, baik amarah maupun syahwat sesungguhnya cenderung merusak diri sendiri.

Dengan mengelola amarah, seseorang bisa bersikap sabar, tenang, dan bahagia. Dan dengan menjaga syahwat, seseorang dapat menjaga kehormatan dan muruahnya. Meski manusia, sebagai binatang, dibekali dengan sifat amarah dan sifat syahwat, tetapi manusia diberi kelebihan lain yang tidak dikaruniakan pada binatang. Yaitu, ilmu yang puncaknya bisa mencapai ma'rifatullah. Inilah yang mengantarkan pada kebahagiaan sejati.

Akhir kalam, di dalam risalahnya itu juga, Imam al-Ghazali memberi pilihan kebebasan bagi kita: mau memilih kebahagiaan yang seperti apa? Jika kita hanya sibuk mencari materi untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan, minum, dan bahagia hidup berumah tangga, apa beda kita dengan binatang ternak?

Bila kita hanya sibuk dan senang berbuat kekacauan, mungkin kita ini tidak ada bedanya dengan binatang buas. Jika kita senang dan bahagia dengan melakukan penipuan, sering berbuat curang untuk keuntungan pribadi, mungkin kita tidak berbeda dengan setan. Dan jika kita ini merasa berbahagia dengan berbuat baik, senang melakukan ketaatan kepada Allah, menjalankan sunah Nabi, berbuat baik kepada sesama, mungkin yang menguasai diri kita adalah unsur kebahagiaan malaikat.

Manusia sendiri, menurut Imam al-Ghazali, sesungguhnya terdiri atas berbagai unsur di atas, unsur binatang ternak, binatang buas, setan, dan malaikat. Unsur mana yang paling dominan dalam diri setiap orang, akan memengaruhi bagaimana ia menggapai kebahagiaan. Dalam hal ini, al-Ghazali menyebutkan bahwa tempat kebahagiaan tertinggi bagi orang pada umumnya (awam) adalah kebahagiaan surga, sementara kebahagiaan tertinggi bagi orang-orang spesial (khawash) adalah menggapai ridha Allah SWT.

Maka, jika ini arti, konsep, dan tolok ukur kebahagiannya, tentu penduduk negara Denmark tidak menjadi paling bahagia di dunia, bahkan masuk pun tidak. Kita pun tidak usah terkagum-kagum dengan gelar negara paling bahagia yang dinobatkan kepada Denmark.   Oleh Rakhmad Zailani Kiki 

Kepala Divisi Pengkajian dan Pengembangan JIC     

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA