Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Filosofi Dua Sujud

Ahad 27 Mar 2016 07:28 WIB

Red: Agung Sasongko

Sujud.

Sujud.

Foto: Reuters/Carlos Jasso

Oleh: Prof. Nasaruddin Umar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sayidina Ali pernah ditanya tentang makna sujud pertama. Ia menjawab, itu artinya: Allahumma innaka minha khalaqtana (Ya Allah sesungguhnya Engkau menciptakan kami dari tanah). Makna bangkit dari sujud ialah: Wa minha akhrajtana (Dan daripadanya engkau mengeluarkan kami). Makna sujud kedua ialah: Wa ilaina tu'iduna (Dan kepadanya Engkau akan mengembalikan kami). Bangkit dari sujud kedua maknanya: Wa minha takhrujna taratan ukra (Dan daripadanya Engkau akan membangkitkan lagi).

Sayidina Ali mengingatkan kita filosofi dua sujud. Sujud pertama mengingatkan kita bahwa manusia berasal-usul dari tanah. Dari tanah ia diciptakan dan tumbuh menjadi makhluk hidup yang diberi kepercayaan sebagai khalifah di bumi dengan segala aktivitasnya. Meski demikian, setiap manusia mempunyai ajal dan pada akhirnya juga ia kembali ke tanah, masuk ke liang lahat, dan kembali menjadi tanah. Bangkit dari sujud mempunyai makna eskatologis.

Semua manusia, meskipun sudah kembali menjadi tanah, akan dibangkitkan kembali pada hari kebangkitan (yaum al-bi'ts) untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan yang pernah dilakukan ketika berada "di antara dua sujud", yaitu di alam fana, dunia ini. Kebangkitan dari sujud kedua disebut juga sujud terakhir karena tidak ada lagi sujud ketiga. Pada hari kebangkitan, "bumi sudah digulung." Selanjutnya manusia akan hidup di dalam keabadian hari akhirat.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA