Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Hakikat Rukuk

Jumat 18 Mar 2016 15:55 WIB

Red: Agung Sasongko

shalat

shalat

Foto: .

Oleh: Prof. Nasaruddin Umar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rukuk adalah salah satu dari empat inti pelaksanaan shalat di samping berdiri, sujud, dan duduk. Inti pelaksanaan shalat ini sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, "Saya diperintahkan Jibril untuk membaca Alquran pada waktu berdiri, bertahmid pada waktu rukuk, bertasbih pada waktu sujud, dan berdoa pada waktu duduk."

Tata cara (kaifiyat) pelaksanaan shalat seperti inilah yang pernah disampaikan Nabi, Shallu kama raitumuni ushalli (shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat). Penjelasan tentang tata cara rukuk sudah banyak dibahas di dalam kitab-kitab fikih. Dasar hukum rukuk juga banyak disebutkan dalam ayat dan hadis antara lain, "Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (QS al-Baqarah [2]:43).

Dalam suatu riwayat Nabi dikatakan, ketika turun akhir surah al-Waqi'ah, Fasabbih bi Ismi Rabbik al-'Adhim (bertasbilah dengan Nama Tuhanmu Yang Mahabesar/QS al-Waqi'ah [56]:96), Nabi memerintahkan untuk membacanya di dalam rukuk. Setelah turun awal surah al-A'la, Sabbih ism Rabbik al-A'la (bertasbihlah dengan Nama Tuhanmu Yang Mahatinggi/QS al-A'la [87]:1), maka Nabi memerintahkan sahabatnya membacanya di dalam sujud.

Hakikat rukuk, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab tasawuf, ialah simbol ketundukan seorang hamba yang rela dengan tulus merukukkan kepala sebagai mahkota paling tinggi manusia kepada Allah 'Azza wa Jalla. Perbuatan rukuk sesungguhnya bukan hanya kepala, melainkan yang lebih penting ialah merukukkan segenap potensi diri, mulai dari kepala sampai kepada seluruh organ spiritual kita, seperti kalbu, jiwa, dan akal pikiran.

Seseorang tidak akan mencapai hakikat dan tujuan rukuk jika yang rukuk hanya lahiriah tanpa disertai batin atau sebaliknya batin tanpa disertai lahiriah. Hal yang pertama itulah disebut "orang yang dimurkai" (al-magdhub) dan yang kedua disebut "orang yang sesat" (al-dhalin).

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA