Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Makkah Itu Hatinya ‘Muslim Jawah’

Jumat 11 Mar 2016 11:24 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Rombongan jamaah haji menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf tahun 1935.

Jamaah haji tahun 1951 di atas Kapal Rotterdam lloyd menuju Makkah.

Foto:

Pertalian emosi antara ‘Muslim Jawah’ dengan Makkah semakin kental seiring majunya teknologi transportasi perkapalan. Kian hari semakin banyak saja orang Muslim di ‘Jawah’ pergi ke Makkah.

Pada pertengahan abad ke 19, malah jumlah 'Muslim Jawah' yang pergi ke Makkah setiap tahunnya tercatat sekitar 60 orang. Jumlah ini meningkat secara luar biasa di paruh awal abad 20 yang mencapai ribuan. Puncaknya pada tahun 1920-an jumlah orang Muslim dari nusantara ke sana sudah mencapai lebih dari 20.000 orang.

Membludaknya minat ‘Muslim Jawah’, baik untuk berhaji atau belajar, menggusarkan pihak penjajah. Mereka sudah lama mencurigai bahwa Makkah adalah kota yang menjadi pusat perlawanan utama terhadap kekuasaanya. Fakta ini terkait dengan begitu banyaknya para ‘mantan mukimin’ yang menjadi penggerak perlawanan terhadap kolonial.

Untuk menelisiknya, maka pihak pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1884 mengirimkan Snouck Hurgronye untuk tinggal dan meneliti para ‘mukimin Jawah’ yang tinggal di kota itu.

Hasilnya, Snouck kemudian memberikan saran agar kepergian Muslim Jawah ke Makkah diperketat dan diawasi. Ini karena para mukimin ini dicurigai telah terpengaruh oleh paham Pan-Islam yang ingin mempersatukan umat Islam dan memerangi kaum kafir imperialis.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA