Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Ekspor Kendaraan Dinilai Bisa Dipacu dengan Penurunan Pajak

Senin 18 Jan 2016 02:26 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Sejumlah pekerja melakukan pengecekan tahap akhir mobil The All New Vios & Limo produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Pabrik Krawang 2, Kawasan Industri Karawang Internasional City, Jawa Barat, Rabu (18/12).

Sejumlah pekerja melakukan pengecekan tahap akhir mobil The All New Vios & Limo produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Pabrik Krawang 2, Kawasan Industri Karawang Internasional City, Jawa Barat, Rabu (18/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Gabungan Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengaku setuju dengan kebijakan pemerintah memberikan insentif untuk industri otomotif jenis sedan. Menurutnya, sudah saatnya Indonesia menjadi basis produksi kendaraan jenis sedan agar dapat menggenjot ekspor.

"Kalau mau meningkatkan ekspor, kita harus mengubah pola basis produksi, yakni MVP ditambah sedan dan SUV," ujar Jongkie, Ahad (17/1).

Jongkie mengatakan, untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sedan dan SUV pemerintah harus membuat insentif yang menarik sehingga dapat mengundang para pemegang merek untuk berinvestasi. Salah satu insentif yang paling mumpuni yakni penurunan tarif PPnBM menjadi 10 persen, sehingga harga akan murah dan volume produksi tinggi.  

Menurut Jongkie, saat ini tarif PPnBM untuk sedan dan SUV masih dipatok 30 persen. Dengan tarif PPnBM yang tidak kompetitif tersebut, industri otomotif Indonesia akan sulit untuk dipercaya menjadi basis produksi maupun basis ekspor kendaraan jenis SUV dan sedan. Apalagi, kedua jenis kendaraan tersebut memiliki pangsa pasar paling besar di dunia.

"Di MVP sudah terbukti, dengan tarif PPnBM sebesar 10 persen sangat laku di pasar," kata Jongkie.

Besarnya tarif PPnBM sedan dan SUV, membuat Indonesia kalah bersaing dengan Thailand. Menurut Jongkie, prinsipal otomotif ternama lebih memilih untuk berinvestasi di Thailand karena tarifnya lebih murah.

Jongkie mengatakan, saat ini kapasitas produksi industri otomotif nasional baru mencapai 1,9 juta unit. Sementara angka penjualan domestik baru mencapai 1 juta unit, dan penjualan ekspor sebesar 200 ribu unit. Dengan demikian, masih ada kelebihan kapasitas produksi sebesar 700 ribu unit. Sementara itu, ekspor otomotif Thailand sudah menembus angka 1 juta unit, meski penjualan domestiknya hanya sebesar 880 ribu unit.



Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA