Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Habib Usman bin Yahya Sang Mufti Kritis yang Disegani

Ahad 03 Jan 2016 13:00 WIB

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID,Habib Usman bin Yahya Sang Mufti Kritis yang Disegani

Dunia berubah begitu cepat. Globalisasi dan modernisasi acap membuat manusia tergerus di dalamnya. Mata mudah dibuat silap. Kapitalisasi merambah tiap lini kehidupan, tak terkecuali di kota metropolitan, seperti Jakarta. Fitnah mendera tidak hanya kalangan awam, tetapi juga cerdik pandai. 

Tak jarang hal seperti itu banyak mengaburkan pandangan tentang adanya orang-orang berilmu dalam agama Islam. Dalam pandangan masyarakat awam, terutama masyarakat yang belum mengenal agama Islam, ulama selalu disudutkan dengan cara hidupnya.

Ternyata hal seperti itu sudah diprediksi Habib Usman bin Yahya. Jauh sebelum keadaan itu semakin rumit, mufti Betawi telah menyampaikan kritikan melalui bukunya Risalah Dua Ilmu. Putra Abdullah bin Aqil bin Syech bin Abdurahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya ini membagi ulama menjadi dua kategori, yaitu ulama dunia dan ulama akhirat.

Ulama dunia, menurutnya, adalah ulama yang dihinggapi keduniawian dan ketidakikhlasan. Dia materialistis, berambisi dengan kedudukan, sombong, dan angkuh. Sedangkan, ulama akhirat adalah orang yang ikhlas dan tawadhu yang terus berjuang mengamalkan ilmunya hanya mencari ridha Allah SWT.

Pemikiran dan kepekaan yang kritis mufti ke?

lahiran Pekojan, Jakarta Barat, pada 17 Ra biul Awal 1238 H atau 1822 M ini memang tinggi sehingga dia mampu melahirkan banyak karangan dan semua karyanya patut menjadi rujukan untuk dipelajari jika ingin selamat dunia akhirat.

Ada sekitar 144 karya Habib Usman bin Yah?

ya. Karya yang membahas bagaimana cara ber?

sikap dalam kehidupan sehari-hari itu, di an tara nya Taudhih al-Adillati ala Syuruthi al-Abillah, al-Qawanin asy-Syariyah li Ahl al-Majalisi al-Hukmiyah wa al- Iftaiyah, Tabir Aqwaadillah, dan lainnya. 

Semua hasil karya Habib Usman Bin Yahya dicetak sendiri di tempat percetakannya yang dikenal dengan Percetakan Batu. Mengapa dikenal dengan Percetakan Batu? Karena klise atau negatifnya masih dibuat dengan batu. Dari hasil usaha percetakannya itu, dia menjalani kehidupannya sehari-hari bersama keluarga, selain membuka majelis ilmu.

 
Bagaimanakah kelengkapan kisah perjalanan mufti Jakarta ini? 

Simak kisah lengkapnya dalam rubrik \"Mujaddid\" edisi mendatang. (c62, ed: nashih nashrullah)

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA