Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Dokter Larang Gunakan Kawat Gigi demi Ikuti Tren

Selasa 15 Dec 2015 11:46 WIB

Rep: C04/ Red: Indira Rezkisari

Kawat gigi

Kawat gigi

Foto: wikimedia

REPUBLIKA.CO.ID, Sejak beberapa tahun belakangan, masyarakat banyak yang menggunakan kawat gigi guna mengoreksi susunan gigi yang tidak teratur. Kawat gigi atau yang akrab disebut behel ortodenti saat ini memang telah menjadi tren, terutama di kalangan anak muda.

Berdasarkan survei para dokter gigi, ada tiga keluhan yang banyak diungkapkan oleh para pengguna kawat gigi. Salah satunya adalah sulit membersihkan gigi hingga ke sela-sela kawat gigi.

Pengguna kawat gigi disarankan harus lebih ekstra dalam merawat kebersihan giginya. Hal ini dikarenakan, menurut Pengurus Ikatan Ortodontis Indonesia (IKORTI) Komda Jaya, drg. Dwi Anie Lestari, Sp.Ort jika tidak dilakukan justru akan menimbulkan masalah bagi gigi dan gusi.

"Pada dasarnya, kawat gigi digunakan untuk memperbaiki susunan gigi dan estetika wajah. Penggunaannya pasti menimbulkan efek tertentu seperti nyeri akibat tekanan pada gigi," ungkapnya dalam acara peluncuran sikat dan pasta gigi Formula Orthodontic di Jakarta, Senin (14/12).

Ia melanjutkan, bahwa ambang batas sakit setiap orang berbeda sehingga rasa nyeri yang dirasakan ketika menggunakan kawat gigi tentu berbeda. Keluhan mengalami sariawan merupakan yang paling sering dialami oleh para pengguna kawat gigi.

"Trauma yang timbul dengan adanya kawat gigi, molar bands atau cleat yang digunakan inilah yang kemudian dapat melukai rongga mulut dan menyebabkan pasien mudah terkena sariawan," ungkapnya.

Selain itu, menurutnya penting untuk digarisbawahi bahwa penggunaan kawat gigi juga tidak disarankan apabila hanya untuk mengikuti tren dan aksesoris. Penggunaannya harus berdasarkan masalah yang ditimbulkan.

Dalam dunia kedokteran gigi, masalah tersebut dinamakan malokusi atau keadaan ketika gigi atas dan bawah tidak saling bertemu dan menyebabkan susunan gigi menjadi berantakan. Sehingga, keadaan ini dirasa cukup mengganggu terlebih jika dinilai dari sisi estetika ketika orang tersebut tersenyum.

"Penggunaan kawat gigi dilakukan apabila pasien mengalami kondisi gigi renggang, berantakan, cemeh gingsul dan tonggos. Apalagi jika kondisi-kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas dan merubah susunan tulang rahang. Jadi, bukan sekedar hanya untuk bergaya," lanjutnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA