Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Lokasi Pemeriksaan Virus HIV/AIDS di Kabupaten Bekasi Masih Minim

Selasa 01 Dec 2015 19:00 WIB

Rep: C37/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petugas kesehatan mengambil darah untuk tes HIV secara gratis di Taman Suropati, Jakarta, Ahad (29/11). (Republika/Raisan Al Farisi)

Petugas kesehatan mengambil darah untuk tes HIV secara gratis di Taman Suropati, Jakarta, Ahad (29/11). (Republika/Raisan Al Farisi)

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI --  Terdapat sebanyak 15 Puskesmas di Kabupaten Bekasi yang melayani pemeriksaan virus HIV/AIDS dan memberi penyuluhan. Jumlah tersebut dirasa masih kurang mengingat angka orang dengan HIV/AIDS (ODHA) semakin meningkat, yaitu sebanyak 711 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Muharmansyah Boestari mengakui, jumlah Puskesmas yang dapat melayani pemeriksaan virus dan memberi penyuluhan masih sedikit. Dari 43 Puskesmas yang ada di Kabupaten Bekasi, baru 15 Puskesmas yang dilengkapi fasilitas tersebut.

Kendati begitu, pihaknya berjanji akan meningkatkan jumlah Puskesmas yang dilengkapi fasilitas tersebut.

"Memang benar baru ada 15 Puskesmas yang kami latih untuk penyuluhan bahaya HIV/AIDS, tapi kami targetkan tiap tahun bertambah,"kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Muharmansyah Boestari, Selasa (1/12).

Sementara itu Kepala Seksi Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Priatna Gamal, menambahkan tahun ini tercatat ada 15 orang pengidap AIDS yang meninggal dunia.

"Tahun ini ada 15 orang, lebih banyak dua orang dibanding tahun lalu," ungkapnya.

Priatna menjelaskan, penderita AIDS cenderung memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan penderita HIV. Sebab, pengidap AIDS biasanya sudah terkena infeksi oportunistik. Kondisi ini membuat penderita mulai terserang berbagai penyakit, seperti Tubercolucis (TBC), jamur di mulut dan sebagainya.

"Penyakit ini timbul karena melemahnya kekebalan tubuh akibat terserang virus AIDS," jelasnya. Meski penderita HIV lebih rendah, lanjut Priatna, risiko terhadap kasus kematian penyakit ini tidak bisa dianggap sepele.

"Karena selama hidupnya ODHA diwajibkan mengonsumsi obat untuk menekan penyebaran virus di tubuhnya," jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA