Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Indonesia Kurang 7 Ribu Ahli IT

Ahad 08 Nov 2015 13:23 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Kejahatan siber

Kejahatan siber

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia kekurangan sebanyak 7.000 tenaga ahli teknologi dan informasi (IT) yang bersertifikasi sebagai profesi yang berkualitas. Kepala Sub Direktorat Keamanan Teknologi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Riki Arif Gunawan mengatakan saat ini pemerintah sedang berupaya untuk membuat sertifikasi profesi dalam menciptakan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Pemerintah juga bermitra dengan swasta dalam mengisi kekurangan 7.000 tenaga ahli IT.

Ia menjelaskan dalam menciptakan keamanan di dunia maya, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia berkualitas sebagai pelengkap dari infrastruktur TI yang mumpuni untuk mencegah ancaman dalam dunia maya yang kemampuannya juga bertambah maju seiring berkembangnya teknologi.

Terkait dengan sumber daya manusia yang ahli teknologi dan informasi, saat ini Indonesia memiliki lebih banyak konsumen dibandingkan dengan pekerja dalam bidang teknologi, merujuk pada pada studi yang menyimpulkan bahwa pertumbuhan penggunaan pita lebar (perluasan jaringan internet) sebesar 10 persen mampu meningkatkan pertumbuhan GDP hingga mencapai 1 persen. Ia menambahkan, studi ini juga mengelaborasi bahwa dari 1.000 pengguna jaringan pita lebar mampu menciptakan lapangan kerja baru untuk 80 orang.

Sementara itu, Ketua Umum of Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (MASTEL) Kristiono mengatakan Indonesia telah menerapkan rencana jaringan pita lebar sejak 2014. Indonesia memiliki potensi yang tidak terbatas. "Setelah penerapan Indonesia Broadband Plan, Indonesia akan menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di dunia. Namun hal tersebut bukanlah tanpa tantangan," kata Kristiono.

Pertama, katanya, harus dibangun sebuah infrastruktur yang mampu menarik lebih banyak pengguna jaringan pita lebar, dengan target mencapai 120 juta penduduk Indonesia. Kedua, bagaimana menciptakan sebuah ekosistem digital yang aman. Pada bagian lain, menurut data dari studi yang dilakukan oleh Akamai Technology Firm, Indonesia masih menempati peringkat tiga dalam daftar negara yang memiliki sumber serangan siber terbesar.

"Maka saya setuju untuk memperkuat kekuatan jaringan cyber di Indonesia agar lebih aman serta terkontrol perkembangannya, mengingat potensi yang ada begitu besar," katanya.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA