Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Petatah Petitih Sarat Makna Warisan Sunan Gunung Jati

Jumat 02 Oct 2015 16:00 WIB

Red:

Dalam mengembangkan dakwah Islam, Sunan Gunung Jati menerapkan metode akulturasi budaya, penuh toleransi, damai dan tanpa peperangan. Sang Wali pun merangkai kalimatkalimat dakwah dan peringatan dengan 42 petatah petitih. Yakni ungkapan atau ucapan yang mengandung ajaran hidup berupa nasihat, pesan, anjuran, kritik, dan teguran.

Petatah-petitih itupun mampu menjangkau luas bangunan peradaban generasi setelahnya. Adapun petatah petitih itu, di antaranya ketika masyarakat silau dengan budaya asing yang mengubah citra dan naluri kemanusiaan, Sunan Gunung Jati berpesan hormaten, emanen, mulyaken ing pusaka (hormat, sayangi, dan muliakan pusaka).

Ketika umat sibuk memperkaya diri sendiri dengan tidak mempedulikan kepentingan orang lain yang lemah dan papa, dengan tegas Sang Waliyullah itu berujar "Amapesa ing bina batan (jangan serakah atau berangasan dalam hidup). Ketika semua kita melihat satu sama lain dengan kacamata negatif dan penuh syakwasangka, Sunan Gunung Jati bertutur tepo saliro den adol (tampilkan perilaku yang baik), Aja ngagungaken ing salira (jangan mengagungkan diri sendiri).

Ketika rasa persaudaraan kita tercabik oleh kepentingan-kepentingan sesaat , Sunan Gunung Jati mewanti-wanti angadahna ing perpadu (jauhi pertengkaran). Aja ilok ngamad kang durung yakin (jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya).

"Salah satu wasiat agung beliau yang terkenal dan masih selalu menggema sampai saat ini adalah 'Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin'," kata Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat. 'Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin' merupakan sebuah amanat Sunan Gunung Jati bagi generasi penerusnya dan umat Islam pada umumnya. Yakni untuk senantiasa menjaga dan memperkuat keimanan, hablumminallah (vertikal) dan secara bersamaan pula memperhatikan kesejahteraan kaum lemah dan papa, habluminannas (horizontal).

Menilik pada perkembangan kondisi sosial akhir-akhir ini, Sultan pun mengajak semua pihak untuk bersama-sama bermuhasabah dan mengintrospeksi sikap dan perilaku terhadap nilainilai luhur agama. Dia berharap, semua pihak dapat merefleksikan ruh dan semangat ajaran agama Islam yang agung dan telah dijabarkan oleh para Waliyullah.

"Melalui momentum haul Sunan Gunung Jati ini, mari kita tingkatkan semangat positif membangun dan bekerja keras untuk memperbaiki bolong-bolong dalam sendi-sendi kehidupan kita, serta kita tingkatkan kepedulian pada masyarakat lemah sebagai bentuk pengorbanan yang diajarkan oleh agama," tandas Sultan. ¦ ed: agus yulianto

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA