Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Psikologi Haji (1)

Senin 21 Sep 2015 05:18 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah.

Jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah.

Foto: Antara/Zarqoni Maksum/ca

Oleh: Komaruddin Hidayat

Mengapa  untuk memanjatkan doa pada Tuhan saja mesti pergi jauh-jauh ke Makkah di Saudi Arabia dengan ongkos yang cenderung naik dari tahun ke tahun? Adakah kalau kita berdoa di Tanah Air,  Tuhan tidak mendengarnya?

Tentu saja semua orang yang beriman meyakini bahwa di mana pun dan kapan pun kita berdoa, Tuhan pasti mendengarkan, baik berdoa dengan berbisik-bisik maupun dengan suara keras. Lebih dari itu, sesungguhnya untuk melakukan komunikasi dengan Tuhan tidak diperlukan ongkos.

Namun demikian, karena ajaran formal agama (Islam), menetapkan bahwa haji haruslah dilaksanakan di wilayah Tanah Suci Makkah dan waktunya  pun telah ditentukan, maka dewasa ini setiap tahun sekitar dua juta umat Islam memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji, mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS.

Di samping menetapkan niat dalam hati, rangkaian ibadah haji secara lahiriah diawali dengan menanggalkan pakaian sehari-hari, lalu diganti dengan menggunakan pakaian ihram, yaitu kain putih yang amat sederhana. Secara psikologis, pakaian keseharian kita merupakan refleksi keakuan serta simbol status sosial. Ketika menghadap Tuhan, pakaian artifisial ini kita lepaskan.

Dalam kehidupan ini, mudah sekali orang mengidentikkan jati dirinya dengan pakaian, status sosial ataupun profesi yang disandangnya. Terlebih lagi jika status sosial yang disandangnya itu dianggap bergengsi dan mendatangkan banyak keuntungan materi.

Orang yang telah puluhan tahun menjabat sebagai lurah, misalnya, bisa jadi jabatan yang dipeluknya itu menjadi manunggal karena telah tertanam ke dalam ruang bawah sadarnya. Kesadaran kelas ini biasanya membias pada keluarga (istri, anak) dan lingkungan sekitarnya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA