Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Haji dan Inklusivisme Islam (2)

Kamis 10 Sep 2015 05:19 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Jamaah haji di Makkah (ilustrasi).

Jamaah haji di Makkah (ilustrasi).

Foto: Antara/Saptono

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Komaruddin Hidayat

Beginilah kondisi psikologis umat Islam. Ketika mereka berada di Masjid Haram, Makkah, mendekat ke Kakbah, maka perbedaan dan permusuhan lenyap. Artinya, semakin seseorang mendekat pada Allah, semakin kuat imannya, mestinya semakin solid dan kokoh persaudarannya.

Siapapun yang pernah berhaji tahu dan mengalami, sekalipun jumlah jamaah mencapai sejuta lebih, petugas keamanannya sangat sedikit dibanding pertemuan dunia lain, misalnya olimpiade.  Mengapa? Karena mereka lebih takut pada Allah ketimbang kepada petugas keamanan kalau membuat onar, tengkar dan lebih-lebih perkelahian. Allah berfirman, siapa yang tengkar dan berbuat dosa, maka hajinya batal.

Hanya satu baris firman Allah, sudah mampu mengendalikan perilaku sejuta lebih jamaah haji. Saya membayangkan, andaikan ketaatan pada Allah yang terjadi sewaktu haji juga dibawa pulang ke Tanah Air, betapa maju dan damainya Indonesia ini. Tak akan ada korupsi dan perkelahian, karena keduanya dimurkai Allah.

Itulah yang dimaksud dengan menggapai maqam Ibrahim dari ibadah haji. Yaitu tekad dan ketundukan total pada Allah, yang dilambangkan dengan kesediaan menyembelih putra kandungnya. Suatu ujian yang amat sangat berat, namun Ibrahim lulus.

Mestinya suasana persaudaraan, toleransi, kelapangan, kesucian dan kesederhanaan yang diraih di Makkah dibawa pulang ke Tanah Air, mengingat pesan dan adegan haji itu secara substansial pada hakikatnya adalah dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Air. Entah itu pesan thawaf, wuquf, sa’i, melempar jumrah kesemuanya itu yang paling berat bukannya dilakukan di tanah Arab, melainkan di Tanah Air.    

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA