Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

SBY Bicara Bahasa Sunda, Ribuan Mahasiswa UPI Bersorak

Rabu 02 Sep 2015 11:09 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Erik Purnama Putra

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan kuliah umum perdana di hadapan 7 ribu lebih mahasiswa baru dan tamu undangan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Rabu (2/9). Saat memberikan kuliah, mahasiswa bersorak sorai karena tanpa diduga, SBY menggunakan kosakata bahasa Sunda dengan logat yang menarik.

SBY menyampaikan betapa pentingnya peran pemimpin dan tokoh agama dalam menangani konflik dan menciptakan kedamaian di masyarakat. Karena, selama 10 tahun memimpin bangsa ini dan sebelumnya menjabat sebagai Menteri Polkam.

"Saya berupaya menjaga kedamaian dan keamanan," ujar SBY saat memberikan kuliah umum dengan tema 'Pendidikan Kedamaian untuk Memperkokoh Jati Diri Bangsa'.

Selama itu juga, SBY mengaku dibantu tokoh masyarakat dan agama. Tokoh masyarakat, pemimpin agama membantu negara menyadarkan, ikut melerai meneduhkan. Tapi, kata dia, ada juga 1-2-3-4-5-6 pihak yang malah memprovokasi memanas-manasi, memanfaatkan kondisi untuk keperluan untuk kepentingan dirinya.

Orang-orang seperti itulah yang disebut SBY sebagai pembuat onar. Mereka, bukannya jadi pencipta perdamaian malah menjadi sumber masalah. "Mbok diam, cicing (diam). Jangan ikut provokasi," kata SBY disambut tepuk tangan dan sorak sorai ribuan mahasiswa UPI.

Selain itu, pernyataan SBY tersebut langsung mengundang senyum bahkan gelak tawa para mahasiswa. SBY pun tersenyum melihat reaksi para mahasiswa dan undangan yang hadir. "Mosok bangga labelnya trouble maker," kata ketua umum Partai Demokrat tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA