Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Maradona Ingin Lawan Mafia dan Jadi Presiden FIFA

Kamis 30 Jul 2015 08:11 WIB

Rep: C31/ Red: Ilham

Diego Maradona

Diego Maradona

Foto: Forza Italian Football

REPUBLIKA.CO.ID, BUENOS AIRES -- Legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona ingin melawan "mafia" yang bertanggung jawab atas skandal korupsi yang mengguncang FIFA. Maradona juga ingin menjadi presiden FIFA berikutnya.

"Saya harus melawan mafia yang masih tetap di dalam FIFA. Saya harus berjuang (karena) mereka memiliki waktu yang lama di FIFA," ujar Maradona kepada saluran televisi lokal Amerika seperti dilansir Reuters, Kamis (30/7).

Legenda yang berusia 54 tahun ini benar-benar ingin berada di FIFA, ketika ditanya apakah akan mencalonkan diri sebagai ketua FIFA. Maradona sendiri telah lama menuduh Blatter menjalankan FIFA seperti organisasi kriminal.

Mantan pemain asal Argentina ini mengungkapkan kegembiraannya saat melihat otoritas AS menyerang beberapa mantan dan pejabat tinggi FIFA dengan tuduhan korupsi. "Sekarang menguntungkan saya, saya berjalan di langkah dengan pemikiran yang sehat," kata Maradona dalam wawancara.

Pada akhir Mei, jaksa federal di New York mendakwa sembilan pejabat sepak bola  yang sebagian besar dimiliki atau telah memegang posisi di FIFA. Lima media olahraga dan promosi eksekutif dalam skema yang melibatkan 150 juta dolar AS suap selama 24 tahun.

Jaksa mengatakan, hasil penyelidikan menyatakan mereka terkena skema pencucian uang yang kompleks, seprti jutaan dolar pendapatan yang tidak dibayar pajaknya dan puluhan juta dolar dalam rekening di luar negeri dipegang oleh pejabat sepak bola.

Selanjutnya, Maradona telah meluncurkan serangan pedas pada elit penguasa dari FIFA dan khususnya kepada Sepp Blatter. Blatter sendiri tidak dikenakan biaya oleh pejabat pengadilan AS dan menyangkal kesalahan apapun.

Maradona adalah salah satu pemain paling berbakat di dunia sepak bola dan memimpin Argentina untuk kemenangan Piala Dunia pada tahun 1986. Namun, karier silaunya suram di tahun berikutnya oleh kecanduan narkoba, alkohol, dan insiden kontroversial, baik di dalam dan luar lapangan sepak bola.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA