Senin 13 Jul 2015 15:00 WIB

Umrah Ramadhan- Menggapai Lailatul Qadar di Masjidil Haram

Red:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menunaikan ibadah umrah pada bulan suci Ramadhan menjadi pilihan masyarakat Muslim dunia, termasuk dari Indonesia. Pada bulan yang penuh hidayah dan ampunan ini, para ulama meyakini bahwa melaksanakan umrah pada bulan Ramadhan sama artinya dengan berhaji bersama Rasulullah.

Karena itu, tidak heran jika puluhan ribu masyarakat Muslim Indonesia berjiarah ke Tanah Haram selama Ramadhan 1436 Hijriyah ini. Jumlah peziarah tersebut kini semakin membesar, khususnya pada 10 hari terakhir Ramadhan. Para jamaah sengaja memilih waktu berumrah pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan harapan bisa menggapai malam Lailatul Qadar di Masjidil Haram atau yang sering disebut sebagai Malam Seribu Bulan.

Menurut Ustaz Erick Yusuf, setiap Ramadhan, ratusan ribu umat Muslim dari seluruh penjuru dunia memadati Masjidil Haram, khususnya pada 10 hari terakhir Ramadhan. Keramaian para jamaah di masjid tersebut hampir sama dengan pada saat suasana berhaji. "Jadi, gairahnya memang menunjang orang untuk beribadah dan beriktikaf," paparnya.

Para Tamu Allah tersebut berusaha mengejar malam Laimul Qiyam dengan melakukan berbagai aktivitas ibadah di Masjidil Haram, seperti membaca Alquran, takbir, shalat sunah, dan iktikaf. Para jamaah yang berumrah pada 10 hari terahir, dinilainya sangat positif. Sebab, secara bobot, umrah untuk mengejar Lailatul Qadar memang faedahnya jauh lebih baik.

Keutamaan malam Lailatul Qadar, kata dia, memang  jelas tertera dalam surah al-Qadar ayat 3. "Laylatul qadri khayrun min alfi syahrin." Artinya malam kemulian lebih baik dari seribu bulan.

Lebih lanjut, ustaz ini menjelaskan, dengan orang beribadah saat momen (malam) tersebut, pahalanya sama dengan 1.000 bulan atau sekitar 83 tahun. Padahal, umur manusia rata-rata saat ini hanya di kisaran 60 tahunan. "Maka dari itu wajar jika umat Muslim berlomba-lomba agar bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar," katanya.

Biasanya, banyak ibadah yang dilakukan oleh para jamaah atau umat Muslim pada 10 hari terakhir Ramadhan. Seperti, mambaca Alquran, takbir, berzikir, shalat malam, dan lainnya. Hal lain, selain ibadah, tutur dia, Lailatul Qadar juga menjadi ajang pribadi Muslim untuk bermuhasabah diri, yakni dengan melakukan iktikaf di masjid. "Ini simbol melupakan sejenak masalah duniawi untuk fokus ke akhirat," katanya memaparkan.

Erick  menjelaskan, Rasulullah juga selalu berusaha untuk menggapai malam seribu bulan tersebut. Bahkan, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, Nabi dan para sahabatnya langsung "mengencangkan ikat pinggang". Maksudnya mereka fokus ibadah di masjid dan sejenak melupakan masalah dunia. Mereka, bahkan hanya keluar masjid ketika ingin makan ataupun mandi saja.

Hadiah

Sementara itu, imam besar Masjid New York, Ustaz Samsi Ali menjelaskan, Lailatul Qadar adalah hadiah dari Allah SWT bagi umat Muslim. Berkah orang yang mendapatkan Lailatul Qadar laksana mendapatkan kebaikan selama 1.000 bulan.

Ia menekankan urgensi dari Lailatul Qadar adalah menemukan jati diri sebagai pribadi Muslim. Yakni, seyogiyannya Lailatul Qadar dapat mengubah pribadi Muslim menjadi lebih baik. "Momentum Lailatul Qadar adalah momentum seseorang untuk menjemput hidayah," ujarnya kepada Republika.

Samsi menerangkan, untuk menjemput malam Lailatul Qadar hendaknya pribadi Muslim berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah reguler. Seperti, berdoa, berzikir, dan shalat malam. Lebih baik lagi, kata dia, jika ditambah dengan iktikaf di masjid. Di mana, melalui iktikaf harapannya ibadah bisa menjadi lebih fokus.

Samsil juga melihat positif jamaah umrah yang mengejar Lailatul Qadar di Masjidil Haram. Karena, ibadah di sana nilai pahalanya berlipat ganda.

Namun, meski berumrah di Ramadhan pahalanya berlipat ganda, tetapi ia menggarisbawahi beberapa hal. Salah satunya adalah jangan sampai mencari Lailatul Qadar di Masjidil Haram jatuh pada perbuatan riya dan berlebih-lebihan. Misalnya, mereka justru mengesampingkan ibadah sosial, seperti membantu orang yang tidak mampu. "Karena hakikat mencari Lailatul Qadar bisa dilakukan di tempat mana saja," ujarnya.

Waktu Lailatul Qadar

Tentang kapan saatnya malam Lailatul Qadar, Ustaz Erick menyatakan hal itu adalah rahasia Allah SWT. Yang pasti, biasanya jatuh pada hari ganjil 10 malam terakhir Ramadhan. Hal ini, kata dia, berdasarkan riwayat dari hadis terpercaya.

Meski tak diketahui persis kapan waktunya malam Lailatul Qadar, Erick menjelaskan, para ulama terdahulu sempat mendiskusikan beberapa ciri dari hadirnya Malam Seribu Bulan itu. Misalnya, saat malam Lailatul Qadar, suasananya hening, juga terasa hangat karena konon saat itu seluruh malaikat sedang turun ke bumi.

Mengenai ciri-ciri orang Muslim yang berhasil mendapat Lailatul Qadar,  kata Erick, tidak ada ciri khusus. Namun yang pasti, orang yang mendapatkannya akan mengalami perubahan sikap. Yakni, pribadi mereka menjadi lebih baik. "Istilahnya pribadinya semakin saleh," katanya.

Ustaz ini menyarankan kepada pribadi Muslim yang hendak mencari Lailatul Qadar hendaknya sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari. Yakni, dengan memperkuat ibadah di 11 hari sebelum Ramadhan. Ini, kata dia, agar Lailatul Qadar jadi puncak ibadah bagi setiap Muslim.

Samsi juga menjelaskan bahwa ciri orang yang mendapat Lailatul Qadar sifatnya tidak bisa dilihat secara kasat mata. Namun, indikasinya bisa dilihat dari sejauh mana perilaku orang itu setelah Ramadhan berakhir. "Kalau dia semakin saleh dan lebih dekat dengan Allah SWT maka orang itu bisa dibilang sukses mendapat Lailatul Qadar," paparnya. c05 ed: Khoirul Azwar

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement