Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Penurunan Saham Cina Pengaruhi Yield SBN

Kamis 09 Jul 2015 18:11 WIB

Red: Satya Festiani

Pasar Saham Cina

Pasar Saham Cina

Foto: www.maxxelli-consulting.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan penurunan harga saham di Tiongkok sempat mempengaruhi imbal hasil (yield) di instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

"Memang kemarin ada koreksi yield SUN, yang bergerak naik 20 hingga 35 basis poin. Kelihatannya ada situasi eksternal yang mempengaruhi," ujarnya di Jakarta, Kamis (9/7).

Robert menambahkan meskipun ada tekanan global yang menyebabkan kenaikan imbal hasil ini, investor asing masih tertarik untuk berinvestasi pada surat utang negara milik pemerintah Indonesia. "Kemarin asing masih melakukan 'private placement' rupiah kita. Sampai kemarin kepemilikan asing masih bertambah dari 39,31 persen hari sebelumnya menjadi 39,48 persen. Jadi walaupun ada gonjang-ganjing dari Mei ke Juli, sebenarnya kepemilikan asing masih masuk," katanya.

Direktur Surat Utang Negara Loto Srianita Ginting menambahkan meskipun ada tekanan akibat penurunan harga saham Cina, kenaikan imbal hasil juga dipengaruhi oleh beberapa faktor domestik.

Loto mengatakan imbal hasil Surat Berharga Negara bisa kembali turun dan minat investor meningkat, apabila laju inflasi lebih terkendali dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS lebih stabil hingga akhir tahun.

"Kalau inflasi terkendali, ada potensi penurunan (yield). Selain itu kalau volatilitas rupiah lebih stabil, maka juga akan ada pengaruhnya. Lebih stabil, maka lebih bagus," katanya.

Salah satu contoh kenaikan imbal hasil SBN terlihat dari yield obligasi seri FR0070 dengan memiliki tenor 10 tahun, yang naik dari tanggal 7 Juli sebesar 8,15 persen menjadi 8,45 persen pada tanggal 8 Juli.

Selain itu, imbal hasil obligasi seri FR0071 dengan memiliki tenor 15 tahun, ikut mengalami kenaikan dari 8,25 persen pada tanggal 7 Juli menjadi 8,6 persen pada tanggal 8 Juli. Namun diperkirakan kondisi ini tidak berlangsung lama.

Sebelumnya, harga-harga saham di Cina terus anjlok pada Rabu (8/7) lalu. Indeks Shanghai Composite turun hampir 7 persen dan indeks Shenzhen Composite turun empat persen. Hal itu merupakan lanjutan penurunan yang telah melenyapkan 30 persen nilai pasar sejak pertengahan Juni.

Untuk melindungi diri dari penjualan besar-besaran, ratusan lagi perusahaan Cina telah mengajukan penghentian jual beli sahamnya. Secara keseluruhan, lebih dari 1.300 perusahaan di Cina daratan, atau sedikitnya 40 persen dari pasar, telah menghentikan jual beli saham.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA