Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Gerakan Ekonomi Muhammadiyah

Jumat 03 Jul 2015 16:00 WIB

Red:

Muhammadiyah saat ini telah masuk pada masa abad keduanya. Dalam abad pertama, dimulai dari awal kelahirannya, Muhammadiyah sebagai suatu perkumpulan telah menetapkan visinya untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang diridhai Allah SWT (baca: masyarakat utama yang sejahtera lahir dan batin).

Untuk mencapai visi ini, Muhammadiyah menegaskan misi utamanya sebagai gerakan dakwah Islam amar makruf nahi mungkar yang dilandaskan pada teologi al-Ma’un. Sangat wajar bila sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah lebih banyak bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan dalam mengimplementasikan misi dakwahnya, dan ini berlangsung selama satu abad.

Maka, tidaklah mengherankan bila saat ini Muhammadiyah telah memiliki amal usaha yang demikian banyak, antara lain, 3.370 taman kanak-kanak, 2.899 SD dan MI, 1.761 SMP dan MTs, 941 SMK dan SMA, 67 pondok pesantren, 174 perguruan tinggi, 389 rumah sakit dan balai pengobatan, serta 330 panti asuhan. Lebih dari 100 lembaga ZIS (data tahun 2009).

Dengan amal usaha yang sedemikian banyak, Muhammadiyah merupakan bagian penting dari pembangunan bangsa. Gerakan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan menjadi rujukan bagi program pembangunan pemerintah.

Pada satu dekade terakhir, gerakan Muhammadiyah tidak lagi menjadi gerakan penting dan dipentingkan meskipun masih memiliki amal usaha yang begitu banyak. Bahkan, gerakan Muhammadiyah sepertinya semakin dijauhi dari visinya sendiri. Lihat saja "masyarakat sejahtera" --dalam perspektif ekonomi--semakin jauh dari kenyataan.

Rakyat miskin semakin bertambah, pengangguran terus meningkat, petani semakin kehilangan lahan dan kebun, dan rasio Gini Indonesia mencapai 0,43 persen. Sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan Muhammadiyah tidak optimal meningkatkan human development index bangsa Indonesia.

Menjauhnya gerakan Muhammadiyah dari visinya sendiri disebabkan pemahaman warga Muhammadiyah terhadap teologi al-Ma’un, yang hanya sebatas pelaksanaan ibadah mahdhah, memberi sedekah, infak, dan menyantuni anak yatim sebagai bentuk pengguguran kewajiban secara personal. Padahal, bila dikaji dan dipahami komprehensif, teologi al-Ma’un mengajarkan kepada umat (khusunya warga Muhammadiyah) pada dua dimensi ibadah sekaligus, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah muamalah (al-amal al-iqtishadiyah), ibadah untuk menyejahterakan dan menghilangkan kemiskinan umat.

Ketika membahas kemiskinan dan kesejahteraan, di situ kita mesti membicarakan aktivitas dan gerakan ekonomi dan perekonomian. Aktivitas ekonomi atau perekonomian adalah sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat pertumbuhan atau pembangunan suatu masyarakat atau negara. Dan saat ini, bangsa-bangsa di dunia sedang dalam kondisi globalisasi ekonomi.

Globalisasi ekonomi mengubah tatanan kehidupan masyarakat yang menghilangkan batas-batas kultural, geografis, dan ekologis, termasuk aktivitas ekonomi dan perekonomian. Dalam globalisasi ekonomi, batas-batas negara tidak lagi penting. Yang berlaku adalah instrumen perkembangan dan pertumbuhan ekonomi.

Instrumen tersebut, antara lain, investasi, industri, teknologi informasi, dan individual consumers. Instrumen ini sangat memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan perekonomian suatu negara. Jika tidak memiliki itu semua, negara tersebut hanya sebagai pasar bagi negara lain (Kenichi Ohmahe, 2005).

Muhammadiyah sebagai bagian besar dari negara dan bangsa saat ini berada dalam arus globalisasi itu. Dengan prestasi yang telah dibangun selama satu abad, Muhammadiyah memiliki potensi kuat untuk terus terlibat dan survive dalam proses globalisasi ekonomi. Muhammadiyah mempunyai syarat yang kuat bagi tersedianya instrumen pertumbuhan sebagaimana yang dinyatakan Kenichi Ohmahe.

Pada sektor finansial, Muhammadiyah memiliki cash flow/ dan aset yang luar biasa besar. Diperkirakan cash flow Muhammadiyah mencapai Rp 15 triliun dan aset tidak bergeraknya Rp 80 triliun–Rp 85 triliun. Sumber daya finansial dan aset ini dapat dikonsolidasikan, diintegrasikan dengan sumber daya lain, seperti dengan 174 perguruan tinggi, baitut tamwil Muhammadiyah atau BPRS milik Muhammadiyah untuk penciptaan, peningkatan, dan pengembangan industri dan teknologi informasi. Sumber daya anggota, kader, dan simpatisannya yang mencapai 30 juta orang merupakan individual consumers sebagai market table-nya.

Bila tidak ingin tergulung arus globalisasi ekonomi, dengan segala potensi ekonomi yang dimiliki, Muhammadiyah harus berani dan mampu menggerakkan aktivitas amal usaha dan organisasinya melalui pemupukan investasi, pembangunan industri sebagai penunjang amal usaha di bidang pendidikan maupun kesehatan, serta membangun sistem ekonomi jamaah sebagai bentuk konsolidasi warga, anggota, kader, dan simpatisan Muhammadiyah.

Upaya ini merupakan bentuk reinterpretasi pengamalan teologi al-Maun dalam dimensi ibadah muamalah sebagai jalan menciptakan kesejahteraan umat dan mengurangi tingkat kemiskinan sebagaimana yang menjadi visi Muhammadiyah. Ini harus menjadi agenda dan rencana aktivitas gerakan ekonomi Muhammadiyah dalam menapaki abad kedua.

Dengan demikian, Muhammadiyah akan kembali tampil sebagai kekuatan civil society sebagaimana masa awal perkembangannya yang didukung kelas menengah pengusaha dan kekuatan ekonomi organisasi. Dalam catatan sejarahnya, gerakan Muhammadiyah lebih banyak didukung dari kontribusi kelas menengah pengusaha.

Tercatat pada 1916, komposisi keanggotaan Muhammadiyah lebih didominasi oleh para saudagar yang jumahnya mencapai 47 persen, urutan kedua adalah pegawai atau pamong praja 18,1 persen, diikuti oleh ulama 10,7 persen, kaum buruh 8,7 persen, dan kalangan wartawan 0,7 persen.

Jika pada masa awal didukung oleh kelas menengah pengusaha, pada abad keduanya gerakan Muhammadiyah bukan saja didukung kelas menengah pengusaha secara personal, tapi juga ditopang lembaga atau amal usaha dalam bidang ekonomi, seperti industri keuangan, industri pangan dan pertanian, serta industri transportasi dan otomotif yang didukung oleh teknologi made in Indonesia.

Syafrudin Anhar

Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah 2010–2015

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA