Tradisi Dentuman Meriam Digantikan Kumandang Adzan

Red: Agung Sasongko

 Ahad 21 Jun 2015 10:54 WIB

Anak-anak Kampung Kaong, Kecamatan Cipocok, Serang, Banten, bermain meriam bambu atau Foto: ANTARA/Asep Fathulrahman Anak-anak Kampung Kaong, Kecamatan Cipocok, Serang, Banten, bermain meriam bambu atau

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Dentuman meriam bambu yang selalu membahana pada awal bulan Ramadhan kini hampir tak terdengar lagi, bahkan hilang sama sekali, setelah mentradisi beberapa abad lamanya di kampung-kampung muslim dalam wilayah Nusa Tenggara Timur.

Perang-perangan bunyi mercon atau petasan yang belakangan menggantikan dentuman meriam bambu oleh anak-anak dan kawula muda di kantong wilayah muslim kota yang dulu mewarnai pembukaan puasa di bulan suci Ramadhan pun mulai ditinggalkan.

Jamaluddin Baria (26), Ketua Remaja Masjid (Remas) Kota Kupang, menuturkan kebiasaan memainkan meriam bambu sudah hilang sejak beberapa dasawarsa ini, bukan saja di kota besar seperti Kupang, tetapi juga di kota-kota kecil lainnya di NTT.

"Memainkan meriam bambu saat bulan Ramadhan sangat dikenal pada masa lalu, tetapi belakangan mulai ditinggalkan oleh masyarakat setelah ada larangan dari aparat pemerintah terhadap permainan yang dinilai bisa membahayakan tersebut," katanya.

Tetapi mungkin pula hilangnya permainan meriam bambu terjadi karena bahan bambu semakin sulit diperoleh di hutan, setelah banyak hutan kini terus digunduli untuk ditebang kayunya yang menurunkan populasi bambu.

Sehingga anak dan remaja serta pemuda di Kota maupun dikampung-kampung menjadi pusat umat muslim tinggal dan menetap beralih memainkan mercon dan petasan lainnya karena mudah diperoleh di kios dan toko-toko terdekat sekedar meraimaikan awal datang bulan puasa.

Namun kebiasaan itu pun perlahan ditinggalkan ketika orang tua dan para tokoh umat serta tokoh pemuda lebih memilih adzan dan shalat berkumandang menggantung dan saling bersahut-sahutan sebagai kegiatan yang tepat dan bernuansa religi tinggi.

"Tauladan ini akhirnya menggantikan kebiasaan menyulut meriam bambu ini dilakukan saat usai buka puasa dan jeda sebentar saat jamaah banyak shalat tarawih, kemudian dilanjutkan seusai tarawih hingga tengah malam, lalu jeda lagi kemudian dibunyikan lagi saat membangunkan warga makan sahur," katanya.

Tauladan agar tidak menimbulkan kebisingan dan mengganggu umat muslim lain yang tengah melakukan ibadah seperti shalat tarawih dan tadarus Alquran itu juga dibenarkan Kepala Imam Mesjid Agung Al Baitul Qadim, Airmata, Kota Kupang H. Abulrahim Mustafa.

"Selama bulan Ramadhan suara petasan dan musik serta kebisingan lain sebaiknya dihentikan karena mengganggu kekhusyukan umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Semua pihak hendaknya bisa menahan diri", imbaunya.

Haji Mustafa meminta kepada kepolisian serta pemerintah setempat untuk dapat menertibkan suara petasan serta kendaraan bermotor, apalagi meriam bambu yang demtumannya menggelegar itu, termasuk angkutan yang memuar musik dengan suara keras di jalanan.

"Anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa diharapkan mampu memanfaatkan momentum Ramadhan ini sebagai sarana untuk membangkitkan jiwa sosial secara berkelanjutan, katanya. Misalnya berbuka puasa bersama dan pemberian santunan kepada kelompok masyarakat yang kurang mampu perlu dilakukan dalam momentum Ramadhan ini.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X