Kejujuran Abu Dzar Al Ghifari

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko

 Selasa 16 Jun 2015 09:03 WIB

Abu Dzar dikenal sebagai sahabat yang jujur Foto: Bbc.co.uk Abu Dzar dikenal sebagai sahabat yang jujur

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ia mewarnai sejarah Islam dengan sikapnya yang jujur dan  sederhana, tapi penuh harga diri. Ia sahabat revolusioner, yang seolah-olah sengaja diciptakan untuk melawan kebatilan di manapun ia berada.

Sahabat mulia itu bernama asli Jundub ibn Janadah, lebih dikenal dengan Abu Dzar Al Ghiffari. Rasullullah tahu benar siapa kabilah Ghiffar, tempat ia berasal. Ghifar adalah suatu kabilah yang tak tertandingi dalam hal merampok. Celakalah orang yang yang tersesat dan berjumpa dengan bani Ghifar di waktu malam.  

Sesungguhnya Allah memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki. Abu Dzar termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Tak berapa lama kemudian, ia datang lagi ke Makkah membawa seluruh kabilah Ghiffar dalam keadaan Muslim.

Masa demi masa berlalu, tapi manusia terus mengulang sabda Rasulullah tentang Abu Dzar, “Tidak ada lagi di muka bumi dan di bawah naungan langit, orang yang lebih jujur perkataannya selain Abu Dzar.”

Suatu kali Rasulullah bertanya, “Abu Dzar, bagaimana sikapmu jika menjumpai beberapa pembesar yang memungut harta fai’ untuk diri mereka sendiri?” “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, kalau itu terjadi, aku pasti akan menebas mereka dengan pedangku,” jawab Abu Dzar.

Rasul pun bersabda, “Apakah engkau mau aku tunjukkan yang lebih baik daripada itu? Bersabarlah, hingga kamu bertemu denganku!”

Abu Dzar selalu mengingat pesan itu. Pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, fitnah umat Islam akan harta masih terkendali. Tapi ketika Umar bin Khattab meninggal dunia, Abu Dzar mulai melihat gejala yang tidak sehat di kalangan sejumlah penguasa Muslim.

Ia pun turun tangan mengingatkan mereka, berjalan melintasi satu daerah ke daerah lain untuk berdakwah pada para penguasa. Tak satupun penguasa curang yang tidak terancam dengan dakwah Abu Dzar.  
Setiap kali melihat Abu Dzar, masyarakat akan menyambutnya dengan kalimat, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang menumpuk harta dengan setrika-setrika dari api neraka.”

Seandainya sahabat mulia itu ingin membuat pemberontakan, tentu akan segera berkobar. Tapi, Abu Dzar senantiasa menahan diri. Ia ingat pesan Rasulullah untuk tidak menggunakan pedang. Cukuplah ia mencegah, mengingatkan, menasihati, dan bersabar.

Abu Dzar meninggal dalam kondisi seorang diri, jauh dari keramaian di Rabadzah. Abdullah bin Mas’ud menemukan jenazah sahabat mulia itu terbujur kaku di padang pasir, diiringi tangis istri dan seorang anak.
Sebagaimana sabda Rasulullah, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri, dan kelak dibangkitkan seorang diri.”

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X