Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Muhammadiyah Rumuskan Gerakan Ekonomi Islam

Kamis 11 Jun 2015 09:41 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko

Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Yogyakarta.

Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Yogyakarta.

Foto: muhammadiyah.or.id

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Menyadari tidak meratanya kesejahteraan di Indonesia dengan Rasio Gini 0,43, Muhammadiyah tengah merumuskan gerakan ekonomi Islam skala makro dan mikro. Gerakan ekonomi Islam ini dirumuskan dalam cetak biru ekonomi Muhammadiyah yang dibahas bersama Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Muhammadiyah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan (STIED) Jakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta  (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ditunjuk sebagai sebagai tim pengkaji.

Menghadapi tantang untuk terlibat lebih luas dalam pembangunan ekonomi nasional, Muhammadiyah tidak hanya akan mengembangkan sektor ritel serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), tapi juga didorong untuk masuk industri manufaktur.

Format gerakan ekonomi Muhammadiyah, kata Ketua MEK Muhammadiyah Syafrudin Anhar,  merupakan kebutuhan. Pada abad ke dua keberadaaanya, Muhammadiyah ingin berkontribusi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan dinamika global.

''Dalam cetak biru gerakan ekonomi Islam itu, 10 tahun mendatang kami fokus dalam pengembangan sektor riil seperti industri otomotif, pariwisata, pangan, kelautan yang disenergikan dengan industri keuangan syariah,'' tutur Syafrudin usai lokakarya Gerakan Ekonomi Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), belum lama ini.

Diakuinya, jika selama ini Muhammadiyah aktif mengkritisi persoalan investasi dan liberalisasi ekonomi, maka Muhammadiyah juga harus berani masuk ke sana. Karena itu dibutuhkan moderenisasi organisasi ke arah itu.

Pemgembangan industri otomotif dinilai Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Bambang Setiadji tidak terlalu sulit.

Dengan integrasi teknokrat yang dilahirkan UMS, 32 fakultas teknik diberbagai Universitas Muhammadiyah dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah jurusan teknik mesin dan otomotif, pendirian industri ini oleh Muhammadiyah bisa dilakukan.

Muhammadiyah sudah memulai  seperti  SMK Muhammadiyah Magelang Jawa Tengah dengan membuat mobil Esemka. Bahkan sudah ada SMK Muhammadiyah yang bisa membuat mobil tenaga surya.

Bambang meminta ini didukung dan menjadi kebijakan ekonomi Muhammadiyah. ''Tinggal apakah Muhammadiyah mau atau tidak membuat kebijakan itu,'' kata dia.

Melihat keberhasilan ekonomi nasional ditentukan oleh sektor usaha, politisi Golkar dan tokoh Muhammadiyah Hajriyanto Y. Thohari menilai juga sudah saatnya Muhammadiyah menyentuh soal kaderisasi wirausahawan.

''Pada hal awal pendiriannya Muhammadiyah dijiwai semangat kewirausahaan. Karena itu perlu strategi untuk memformulasikan itu semua,'' kata Hajriyanto.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA