Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Diet Makan Daging? Perhatikan Aturannya

Selasa 02 Jun 2015 02:21 WIB

Rep: C27/ Red: Indira Rezkisari

Salah satu diet yang bisa dicoba adalah diet daging, beberapa orang justru berhasil menurunkan berat badan dengan pola makan ini.

Salah satu diet yang bisa dicoba adalah diet daging, beberapa orang justru berhasil menurunkan berat badan dengan pola makan ini.

Foto: pixabay

REPUBLIKA.CO.ID, Pernah dengar tentang diet yang megharuskan pengikutnya mengunyah makanan hingga 100 kali? Atau diet yang mengharuskan pengikutnya mengkonsumsi makanan sesuai proporsi bayi? Diet yang lebih aneh lagi yaitu diet yang dilakukan dengan memakan cacing pita hidup ke tubuh.

Beberapa diet memang dilakukan secara aneh dan membingungkan, namun ada saja orang yang melakukan hal tersebut.

“Jangan tergoda dengan diet-diet aneh yang hanya menjanjikan menurunkan berat badan  tanpa menjelaskan efek negatif kepada fungsi organ tubuh kita,” ujar Emilia Achmadi, pakar nutrisi, yang ditemui ROL beberapa waktu lalu.

Salah satu diet yang cukup dikenal masyarakat untuk menurunkan berat badan merupakan diet makan daging. Pengikut diet tersebut dianjurkan menghindari makanan lain dan hanya mengkonsumsi protein dalam daging.

Menurut Emilia, diet tersebut memang bisa berhasil karena faktor cara pengolahan daging yang cukup memakan tenaga. Contohnya saat seseorang akan memakan 100 gram daging, dia harus mengeluarkan 20 kalori. Sedangkan saat orang tersebut memakan 100 gram karbohidrat hanya mengeluarkan lima kalori.

Dari perbandingan tersebut menimbulkan presepsi bahwa semakin orang tersebut makan daging, maka akan semakin banyak juga kalori yang terbuang. Padahal yang seharusnya tetap saja kebutuhan tubuh harus seimbang.

“Setengahnya harus dari karbohidrat, seperti buah, beras, kacang-kacangan, 20 persen dari protein, dan 30 persen dari lemak,” ujar Emilia

Jika orang tersebut terus mengkonsumsi protein, khususnya daging, maka bisa jadi dia terkena gangguan ginjal. Mengapa? Penyebabnya, protein yang diolah akan menghasilkan sampah berbentuk ureal, semakin banyak protein yang masuk maka sampah yang dihasilkan juga sama.

Tempat pembuangan sampah dari protein adalah ginjal. Sehingga jika ginjal terlalu keras mengolah ureal maka  semakin lama fungsi ginjal akan menurun.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA