Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Meski Melambat, Ekonomi Jabar Kuartal I di Atas Nasional

Ahad 10 May 2015 16:10 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Gedung Sate, Bandung

Gedung Sate, Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ekonomi Jawa Barat kuartal pertama 2015 dinilai mengalami perlambatan. Sumber laju pertumbuhan secara year on year dari sisi lapangan usaha yang memberikan andil pertumbuhan terbesar adalah lapangan usaha industri pengolahan yaitu sebesar 1,76 persen, diikuti perdagangan besar-eceran, dan separasi mobil-sepeda motor sebesar 0,57 persen.

Menurut Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Jabar, Ade Rika Agus, perekonomian Jabar pada kuartal pertama tahun ini diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp 364,53 triliun.

"Pertumbuhan ekonomi Jabar melambat hanya 4,93 persen, namun masih diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 4,71 persen," ujar Ade kepada wartawan, akhir pekan lalu.

Ade menjelaskan, perlambatan ini tidak sejalan dengan iklim investasi yang tumbuh positif. Diduga perlambatan terjadi dari sisi pengeluaran dimana nilai impor relatif tinggi hampir sama dengan nilai ekspor.

Pertumbuhan ekonomi Jabar, kata dia, didukung oleh hampir semua lapangan usaha. Kecuali, pertambangan dan penggalian serta pengadaan listrik dan gas yang mengalami kontraksi masing-masing sebesar minus 8,36 persen dan minus 12,81 persen.

Menurut Ade, struktur PDRB Jabar tidak menunjukan perubahan yang berarti. Aktivitas permintaan terakhir masih didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separuh PDRB Jabar.

Sementara pengeluaran, kata dia, konsumsi pemerintah dan pengeluaran konsumsi Lembaga non profit memiliki kontribusi relatif kecil terhadap nilai PDRB Jabar.

Sesuai pola tahunan, kata dia, konsumsi pemerintah selalu rendah pada kuartal pertama. Nanti, akan mencapai puncaknya di kuartal ketiga dan keempat. "Kontribusi belanja pemerintah sendiri cukup tinggi, mencapai 5,8 persen," katanya.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA