Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Sajak-sajak Evi Idawati

Senin 17 Nov 2008 01:35 WIB

Red:

REDUM KARANG

Akar langit bergelantung di tubuh bumi

Memahat takdir dari lisan rerumputan

Terhampar awan bagi sujud dan keheningan

"Ceritakan padaku kisah bintang,

 detak yang terpanggang

 ruh bagi awan dan halilintar."

Bergetar sayap capung di rebah pepohonan

Engkau menyusui umbi yang tertanam

Daunnya menjalar berkeliaran

Merajai arah sambil menabuh tubuh

Aku berdendang merajam malam

"Jasad ini aku persembahkan bagi kesakitan

 rekaman lara dan ketaklukan."

Tatah tubuhku dengan bibirmu, lelakiku

Jelajahi semesta yang aku bangun di rahimku

Aku mengendapkan matahari di sana

Menunggangi waktu

Engkau menggiring peluh

Menjelmakan embun

Merandai di dada

Merambat lambat menggenang

Di pusar denyut samuderaku

dari redum karang yang terendam

Yogyakarta, 2008

SAJADAH

telah aku terima sajadah

yang engkau kirimkan kepadaku, kekasihku

yang bertuliskan namamu

yang engkau titipkan lewat rabiah

dia berkata-kata padaku tentang dirimu

dan memberikan aku mangga yang ranum

dia juga menunjukkan karpet yang beragam padaku

tapi dia menggulung milikku dan menyerahkannya

pada seorang lelaki untuk membawanya pergi

"kamu lebih memerlukan sajadah

daripada karpet. bergegaslah.

bayarlah aku limaribu

kamu akan mendapatkan milikmu"

lalu lelaki itupun pergi membawa

gulungan karpet tanpa menoleh lagi padaku

padahal dia yang menyeret tanganku melintasi awan

membelah lautan dan menghadapkan aku padamu

telah aku terima ikrar

yang disebutkan rabiah padaku, kekasihku

dengan luapan cinta dan pemujaanku padamu

aku senantiasa menyapa langit dan semesta

menyerahkan diriku untuk mencintaimu

getar dan detak

tangis yang menggenangi pori-pori

limpahan rindu untuk dirimu

telah aku terima semua

yang dikatakan rabiah padaku, kekasihku

mutlak! maafkan, jika senantiasa

aku meminta ridho dan kasihmu

Jakarta, 2008

AKU MEMETIK NAMAMU DARI LANGIT

Bukan pada fajar aku menengadah

Dan menemukan namamu di langit

Lalu memetiknya

Dan meletakkannya di hatiku

Tapi waktu  tengah malam kala semesta benderang

Dan awan mengirimkan isyarat dan tanda masa depan

Aku memetik namamu dari langit

Mengumpulkan bintang dan menaburkanya di matamu

Kerlip dan binarnya seperti arus

Yang menghanyutkan aku dalam beliungnya

Hamparkan hatimu untukku

Menjadi sajadah, mihrab dan nadiku

Jika sunyi masih mendekam

Dan aku menggapai sayap yang tertinggal

Aku sedang menjadi penjaga bagimu

Aku mengambil namamu dari langit

Membangun rasi bintang dan menimbunnya

Akan tiba saatnya sinarnya cemerlang

Melesat keatas dan berbinar

Kau tahu, aku mengukirnya

Dalam rintihan dan desah kata

Yang menjagaku senantiasa

Terbang dan mengepakkan sayapku

Menabur percik cahaya abadi di hatimu

ogyakarta, 2008

Evi Idawati lahir 9 Desember 1973. Belajar teater di ISI Yogyakarta, serta Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media massa pusat dan daerah, serta terkumpul dalam sejumlah buku antologi puisi. Selain menulis puisi dan cerpen, ia juga dikenal sebagai aktris teater dan sinetron.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA