Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

PBB Desak Australia Kurangi Ketergantungannya pada Energi Batubara

Rabu 06 May 2015 19:36 WIB

Red:

abc news

abc news

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Pejabat iklim PBB mendesak Australia untuk mengurangi ketergantungannya pada batubara dan mempelopori kesepakatan emisi global. Desakan itu disampaikan petinggi negosiasi iklim PBB, Christiana Figueres.

Sekretaris Jenderal  Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB ini menyampaikan hal itu dihadapan delegasi pada pertemuan penurunan emisi Australia di Melbourne hari ini (6/5).

Menurutnya target pengurangan emisi global harus tercapai dalam 10 tahun ke depan sehingga pengurangan emisi dan netralitas iklim harus sudah bisa dimulai pada paruh kedua abad ini.

Dalam wawancara besar pertama sejak kedatangannya di Australia, Figueres mengatakan kepada ABC bahwa Australia tidak memiliki pilihan lain selain secara bertahap mengurangi penggunaan batubaranya.
 
"Jika kita melihat ke masa depan - tidak hanya dalam waktu satu malam -  tapi seiring dengan waktu ada kebutuhan bagi Australia untuk melakukan diversifikasi ekonomi yang tidak bergantung sepenuhnya pada batu bara," katanya.
 
"Saya pikir Australia harus mulai secara bertahap dan memperluas basis sumber daya untuk kegiatan ekspornya, terutama karena permintaan batubara semakin menurun dan akan terus menurun."
 
Figueres akan bertanggung jawab untuk mendapatkan kesepakatan pengurangan emisi global di Paris pada bulan Desember.
 
Dia mengatakan meski Australia tercatat hanya bertanggung jawab atas 1,3 persen dari emisi global, namun tetap memiliki tanggung jawab yang unik.
 
"Australia adalah emitor terbesar ke-13 di dunia dan di antara semua negara-negara industri namun emisi karbon per kapitanya merupakan yang tertinggi di dunia,'
 
Namun dia mengakui pengurangan emisi memang akan meningkatkan biaya ekonomi.
 
"Tidak ada yang bilang mudah untuk menurunkan emisi Australiua karena sumber daya alam yang ada di kawasan ini,"
 
"Australia memang memiliki sumber daya batubara yang sangat besar dan telah menjadi tulang punggung kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi negara ini," katanya.
 
Delegasi dalam pertemuan penurunan emisi di Melbourne telah dua hari berdebat merumuskan cara terbaik bagi negara ini untuk mengurani emisi gas rumah kacanya.Target penurunan emisi Australia saat ini 5 % dari tingkat emisi mereka pada tahun 2000 lalu yang ditargetkan tercapai pada tahun 2020 mendatang.

Meski demikian posisi Australia pada tahun 2020 itu masih terus diperdebatkan. Pemerintah Australia direncanakan baru akan mengumumkan target emisi mereka pada awal Juli mendatang.

Figueres mengatakan KTT itu "sangat penting" agar Australia dapat menyuarakan kepemimpinannya dalam perundingan di Paris mendatang."Anda memiliki  potensi yang sangat besar untuk memimpin dunia ke jalan diversifikasi ekonomi yang sangat sehat," katanya.
 
"Memang Australia belum tahu belum bagaimana melakukannya, tapi, teman-teman saya, ini adalah pekerjaan rumah Anda."
 
Dan dia berhenti untuk merekomendasikan target penurunan emisi yang seharusnya dilakukan Australia. "Itu bukan pertanyaan yang saya dapat jawab atas nama Anda, itu adalah pertanyaan yang harus dirumuskan  Australia bekerjasama dengan lintas sektor lain,partai politik, negara bagian dan wilayah di benua ini," katanya.
 
"Tidak ada yang dapat memberitahu Anda apa yang harus dilakukan." tegas Figueres.
 
Figueres mengunggah foto dirinya dengan bos AGL Andrew Vesey.

Bulan lalu AGL mengumumkan rencana untuk menghentikan investasi pembangkit listrik tenaga batu bara dan menegaskan akan menutup fasilitas pembangkit listrik berbahan bakar batu bara milik AGL pada  pada tahun 2050.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA