Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Beda Autogate Bandara dan Surga

Rabu 25 Mar 2015 05:59 WIB

Red: Agung Sasongko

Ustaz Erick Yusuf.

Ustaz Erick Yusuf.

Foto: Republika/Raisan Al Farisi

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kaget, bingung, prihatin bercampur aduk perasaan saya atau mungkin kalau bahasa anak mudanya gagal paham atas kasus autogate bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Ini kutipannya,"verifikasi tambahan pada alat pemeriksaan keimigrasian otomatis atau autogate bandara pada nama yang mengandung “Muhammad” dan “Ali” harus dihentikan".

Pemeriksaan tambahan terhadap pemilik nama Muhammad dan Ali adalah tindakan diskriminatif. Langkah pihak imigrasi tersebut bisa menimbulkan masalah serius. “Di negara lain saja, nama Muhammad dan Ali tidak dipersoalkan, kok di Negara mayoritas muslim seperti Indonesia malah muncul,” ujar Ketua Komisi VIII DPR RI Saleh Partaonan Daulay kepada Republika.

Memang kondisi serta keadaan, berikut perhitungan-perhitungan dunia dan akhirat mestilah jauh berbeda dan seringkali berbalik. Lihat saja jika kita menelisik orang yang pertama kali masuk Surga dari Annas bin Malik RA, ia berkata bawa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Pada hari Kiamat nanti, aku akan mendatangi pintu Surga, kemudian aku meminta untuk dibukakan (pintunya), maka penjaganya bertanya : ‘Siapa Anda?’ Aku menjawab : ‘Muhammad’. Selanjutnya dia berkata : ‘Hanya untukmu aku diperintahkan agar membuka pintu ini dan dilarang bagi seorangpun sebelummu”. ( HR. Muslim no. 188).

Dari hadist tersebut jelas pintu surga tidak akan dibuka kecuali untuk lelaki yang bernama Muhammad, sedangkan pintu autogate bandara justru sebaliknya terjadi pemeriksaan tambahan karena mungkin “kecurigaan” atas lelaki yang bernama Muhammad. Dalam hadist lain bahkan terpampang nama Muhammad SAW di pintu syurga dan di bawah arsy Allah SWT.

Sudahlah hentikan, mari hati-hati dalam membuat sistem, mengeluarkan pernyataan, atau mengambil tindakan yang akan menimbulkan permusuhan. Energi kita akan habis hanya untuk su’udzhon, saling memprovokasi, apakah kita tidak bosan terpuruk dalam keadaan yang saling bermusuhan dan membenci tanpa alasan yang pasti.

Mari fokus memperbaiki diri, memperbaiki bangsa, mari saling mengenal untuk melakukan sinergi demi kepentingan yang lebih besar. Saya yakin dengan upaya ta’aruf (saling mengenal) dibarengi spirit silaturahiim, kita akan saling menghargai perbedaan tanpa harus saling mengancam, dan bisa saling bertukar manfaat serta fokus dalam “pekerjaan rumah” bersama. Yaitu “Revolusi akhlaq” untuk membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Insya Allah.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA