Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Bukit Asam Gandeng Asing Bangun PLTU di Sumsel

Kamis 19 Mar 2015 23:36 WIB

Rep: Maspriel Aries/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

PLTU

PLTU

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG --- PT Bukit Asam (PTBA) Tbk berencana menandatangani naskah kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang dengan nama PLTU Sumsel 8 dengan perusahaan dari RRC, akhir Maret 2015. Rencana tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin.

“Sebelum kembali ke Indonesia, saya akan menuju Beijing menyaksikan penandatanganan pembangunan PLTU Sumsel 8 antara PTBA dengan perusahaan dari Tiongkok. Rencananya penandatanganan juga akan disaksikan Presiden Joko Widodo,” katanya, Kamis (19/3).

Direktur Utama PTBA Tbk Milawarma yang dihubungi ROL Kamis (19/3) membenarkan rencana tersebut. Ia menyatakan memang rencana penandatanganan pembangunan PLTU Sumsel 8 antara PTBA dengan China Huadian Hong Kong Company Limited. Hanya saja jadwal penandatanganan kerjasama investasi tersebut masih menunggu waktu yang tepat.

PLTU Sumsel 8 akan memiliki kapasitas 2x620 MW dan berlokasi di Kabupaten Muara Enim sekarang dalam proses pengembangan. Pelaksanaan proyek ini akan dilakukan anak perusahaan PTBA yaitu PT Huadian Bukit Asam Power. Perusahaan merupakan anak perusahaan patungan antara PTBA dan China Huadian Hong Kong Company Limited.

BUMN tambang batu bara ini merencanakan pembangunan PLTU Sumsel 8 dirancang untuk memenuhi kebutuhan listrik di kawasan Sumatera dan Jawa. Daya listrik akan disalurkan ke Pulau Jawa melalui jaringan transmisi listrik Sumatera-Jawa yang sebagian akan melalui kabel bawah laut.

Milawarma  menjelaskan, untuk lokasi pasokan batu baranya PTBA telah menyiapkan areal tambang baru di Banko Tengah yang diproyeksikan sebagai pemasok batubara untuk PLTU Sumsel 8 dengan perkiraan kebutuhan batu bara 5,4 juta ton pertahun.Selain itu, PTBA memproyeksikan potensi penjualan daya listrik dari pembangunan PLTU Sumsel 8 sebesar Rp4,83 triliun per tahun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA