Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

RSPAD Gatot Soebroto Waspadai Peningkatan Pasien DBD

Kamis 05 Mar 2015 16:40 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Erik Purnama Putra

Kepala RSPAD Gatot Soebroto Brigjen Ponco Agus Prasojo (kedua kiri).

Kepala RSPAD Gatot Soebroto Brigjen Ponco Agus Prasojo (kedua kiri).

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto tetap mewaspadai peningkatan pasien Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), meski saat ini kasusnya belum melonjak.

Kepala RSPAD Gatot Soebroto Brigjen Ponco Agus Prasojo mengatakan, untuk mengatasi penyakit DBD,  diperlukan kewaspadaan yang sangat terukur. Upaya kehati-hatian tersebut harus dilakukan, baik di hulu dan hilir. Caranya melakukan pencegahan aspek DB, yaitu sanitasi lingkungan.

Untuk itu, pihaknya berkomitmen selalu mendukung pemberantasan DBD. Untuk mendukung mengatasi DBD, kami telah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) seperti dokter dan suster terlatih untuk menangani DBD.

“Tak hanya itu, sarana prasarana untuk kebutuhan DBD juga telah disiapkan. Terkait obat, kami sudah menyediakan obat demam berdarah,” katanya saat International Publication of Clinical Study 'The Effect of A Unique Propolis Compound (PropoelixTM) on Clinical Outcomes In Patients With Dengue Hemorrhagic Fever' di Jakarta Pusat, Kamis (5/3).

Sementara itu, Kasub SMF/ Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto, Letkol Ckm Soroy Lardo mengatakan, kasus pasien DBD di RSUD Gatot Soebroyo Ditkesad pernah melonjak tajam pada tahun 2006. Ia menyebutkan, pada 2005, sedikitnya 2.500 orang menderita DBD.

“Kemudian pada tahun 2006, penderita DBD mencapai 3.271 orang, namun pada tahun 2008 kami hanya menerima pasien sekitar 800 orang,” katanya.

Sementara itu, pada tahun 2012, jumlah penderita DBD grade I sebanyak 2.635, grade II empat, dan DSs sebanyak 3. Sementara di tahun 2013, penderita DBD Grade I sebanyak 2.608 penderita, DBD Grade III sebanyak 9 penderita, dan DSS 3 orang. Kemudian pada tahun 2014, Grade I sebanyak 2.448, Grade III delapan orang dan DSS sebanyak dua orang.

Ketua Riset RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad, Alexander Ginting mengatakan, masalah DBD telah menjadi masalah nasional maupun di dunia. “Sebanyak 2,5 miliar jiwa di seluruh dunia terancam terserang DBD dan 50 ribu kasus DBD berujung kematian,” ujarnya.

Penderita yang terinfeksi DBD ini tidak hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah tetapi juga lapisan ekonomi menengah ke atas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA