Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Pentingnya Peran Orang Tua dalam Belajar Anak

Kamis 08 Jan 2015 08:00 WIB

Rep: C73/ Red: Julkifli Marbun

Tahap pertama menyiapkan dana pendidikan anak dimulai dengan memilih dulu sekolah mana yang diinginkan orang tua dan anak sebagai tempat pendidikan anak.

Tahap pertama menyiapkan dana pendidikan anak dimulai dengan memilih dulu sekolah mana yang diinginkan orang tua dan anak sebagai tempat pendidikan anak.

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua memiliki peran yang besar dalam proses belajar anak. Apalagi, dengan kurikulum 2013 yang menuntut siswa kelas I SD untuk dapat membaca, menulis dan berhitung. Di sini, orang tua dituntut untuk memperhatikan pola belajar sang anak.

Direktur Pendidikan Karakter dan Education Consulting, Doni Koesoema A, mengatakan dari banyak teori psikologi perkembangan anak, terbukti bahwa anak yang didampingi orang tua di rumah akan cenderung lebih baik dalam proses pembelajarannya. Hal itu menurutnya, selaras dengan teori pendidikan dari tokoh zona of proximal development yang menyatakan bahwa anak akan lebih berkembang dalam proses pembelajaran ketika didampingi orang dewasa.

Terdapat perbedaan antara anak yang diperhatikan oleh orang tua dan yang cenderung kurang mendapat perhatian orang tuanya. Ketika masih Sekolah Dasar, anak pada dasarnya ingin ditemani oleh orang tuanya.

Hal itu menurut Doni, harus dilihat sebagai bagian proses kedewasaan anak. Anak yang didampingi orang dewasa, akan belajar lebih baik dari pada mereka yang tidak mendapat pendampingan. Secara psikologis, perhatian orang tuanya tersebut membantu anak tidak merasa sendiri, merasa percaya diri, dan merasa diperhatikan. Perasaan nyaman dan diperhatikan itu akan menjadi awal belajar yang baik dan menumbuhkan motivasi belajar anak.

Sementara itu, anak yang kurang mendapat perhatian dan pendampingan orang tua, dapat merasa tertekan dan tidak menutupkemungkinan akhirnya membenci pendidikan. Hal itu karena, umumnya anak masih mengalami kesulitan untuk memahami suatu mata pelajaran dan membutuhkan tempat untuk bertanya.

Apalagi menurutnya, kurikulum 2013 menuntut anak harus sudah bisa carlistung (membaca, menulis dan berhitung). Di sini, peran orang tua sangat penting. Dalam hal ini, orang tua harus bekerjasama dengan sekolah bagaimana memahami kurikulum dan memberikan pengajaran saat mendampingi anak.

Di samping itu, orang tua sebaiknya melakukan komunikasi dengan anak. Setiap pulang sekolah, sebaiknya orang tua bertanya pada anak mengenai kegiatan anak di sekolah.Karena tidak menutupkemungkinan, anak memiliki masalah dengan teman atau pun guru, atau masalah sosial ketika di sekolah. Dan hal itu, bisa diketahui ketika orang tua memiliki kedekatan dengan anak.

“Supaya anak cerita apa yang dialami. Komunikasi sangat penting antara ortu dan anak,” terangnya.

Guru SDN di Pademangan Barat 01 pagi, Jakarta Utara, Yeni Sri Handayani, menilai hal sama. Meskipun anak diberikan tambahan pengajaran di lembaga bimbingan atau les, orang tua sebaiknya tidak lepas tangan. Anak tetap harus didampingi dan mendapat bimbingan dari orang tua.

Sekolah memang tidak hanya memberi pelajaran, tetapi juga memberi pendidikan dalam perilaku anak. Namun demikian, waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah. Sehingga, perilaku sang anak lebih banyak berada di bawah didikan orang tuanya. Karena itu, ia mengatakan harus ada kerjasama antara orang tua dengan guru.

Dalam hal ini, guru dapat memanggil orang tua ke sekolah dan menyampaikan terkait hasil perkembangan belajar anak. Selanjutnya, orang tua harus melakukan pendekatan kembali terhadap anak.

Sejauh ini, umumnya kelas I, II, III, pada Sekolah Dasar masih mendapat pantauan orang tua. Sementara anak kelas V dan VI, umumnya dilepas dari pendampingan orang tua. Padahal, ia menilai di akhir kelas SD yaitu kelas V dan VI, anak harus lebih mendapat pantauan orang tua. Hal itu karena, semakin besar jenjang pendidikan materi lebih sulit.

Sebagai seorang guru, ia menilai terdapat perbedaan antara anak yang mendapat pantauan dan perhatian orang tuanya dan anak yang meiliki orang tua yang sibuk bekerja. Anak yang ditemeni orang tuanya dalam proses belajar di rumah, cenderung memiliki tingkah laku yang baik dan memiliki nilai bagus dalam mata pelajaran di sekolah. Di samping itu, anak terlihat lebih percaya diri. Lain halnya dengan anak yang kurang mendapat perhatian, tingkah lakunya cenderung lebih nakal dan mencari perhatian guru dan temannya. Akan tetapi, walaupun demikian ia mengatakan individu setiap anak berbeda-beda. Adapula anak yang aktif, tetapi pintar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA