Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Kata Asma Nadia tentang Ngaji Digital

Kamis 02 Mei 2019 16:32 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Hasanul Rizqa

Penulis Asma Nadia memberikan paparan saat talkshow pada acara Islamic Book Fair 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Ahad (3/3).

Penulis Asma Nadia memberikan paparan saat talkshow pada acara Islamic Book Fair 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Ahad (3/3).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Asma Nadia menilai, ngaji digital dapat menarik minat generasi milenial untuk belajar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Media sosial diakui telah menjadi arus budaya baru bagi generasi millenial saat ini. Hampir setiap hari, mereka berkutat dengan gawai. Semua yang dahulu dilakukan secara manual atau tatap muka, kini hampir seluruhnya beralih via digital.

Baca Juga

Tak ketinggalan, metode berdakwah. Dewasa ini, cukup banyak ustaz dan ustazah yang menyampaikan siraman rohani melalui jaringan media sosial di internet. Medium ini dapat disebut dakwah online atau ngaji digital.

Terkait itu, penulis novel-novel best seller Asma Nadia menyambut baik keberadaan ngaji digital. Tidak hanya dirinya, melainkan juga anak-anaknya.

“Saya termasuk yang menikmati (ngaji digital). Bukan cuma saya, tapi juga anak bungsu saya, Adam. Kita mengikuti ceramah-ceramah ustaz dari media sosial,” ungkap Asma Nadia saat berbincang dengan Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Dia juga mengakui, media sosial telah menyuguhkan beragam wajah-wajah ustaz baru. Mereka pun tampil dengan macam-macam spesialisasi ilmu. Karena itu, imbau Asma Nadia, generasi milenial bisa mengenal lebih jauh agama Islam melalui media sosial.

Apalagi, gaya komunikasi tiap ustaz ada corak khas masing-masing. Misalnya, beberapa ustaz tampil dengan pembawaan yang cenderung serius. Ada pula yang supel, atau bahkan humoris sehingga lebih menarik perhatian bagi kalangan milenial

“Ini menunjukkan (gaya penyampaian) ustaz lebih variatif dan bisa ditawarkan pada generasi millenial. Kita bisa milih yang cocok apa. Kadang-kadang, misal, anak saya ingin belajar satu persoalan. Maka dia ikut Ustaz Khalid Basalamah. Atau, kalau persoalan lain, dia lalu bertanya, 'boleh enggak aku ikut Ustaz Adi Hidayat (UAH)?' Tentu saya bolehkan,” jelas Asma.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA