Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Lasem: Jawa, Tionghoa, dan Batik

Senin 06 Oct 2014 14:00 WIB

Red:

"Sampai mati, tak akan kuizinkan kau menikah dengan orang pribumi!" Tan Lian Hoa tak menyangka akan mendapat penolakan sekeras ini dari orang tuanya.

Dia hanya bisa berdiri di depan teras rumah sambil menelan semua sumpah serapah yang diucapkan ayahnya, Tuan Tan Tua seorang saudagar batik ternama di Lasem, sebuah kota pesisir di utara Jawa. Lian lantas terduduk lemas, meratapi rembulan yang purnama di atas Lasem, menyoroti wajahnya yang sendu.

"Sadarkah kamu nak? Pantang bagi kita orang Jawa untuk menikah dengan Tionghoa seperti dia!" Di sudut lain kota yang kecil itu, Ario Adiatmodjo mengalami hal yang serupa dengan Lian, pujaan hatinya. Dia yang menjadi calon penerus bisnis batik orang tuanya, Batik Banyu Bening, tak berkutik menghadapi luapan amarah ibunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto-foto: Wihdean hidayat/Republika

Sedari awal, dia menyadari, hubungannya dengan seorang gadis Tionghoa tidak akan mendapat restu orang tuanya. Pikirannya mendadak penuh, tak mampu lagi menerima hujan petuah orang tuanya yang meradang. Ario terduduk di sudut jendela rumah joglonya, menatap rembulan purnama. Rembulan yang sama dengan yang Lian tatap.

Seluruh kota mendengar, keluarga Tan dan keluarga Adiatmodjo saling berseteru. Dua saudagar batik paling maju di Kota Lasem, menolak hubungan anak-anak mereka.

Kisah di atas membuka pementasan drama musikal berjudul "Putih-Hitam Lasem". Mengambil latar tempat di Lasem, sebuah kota kecil di Rembang, Jawa Tengah, yang terkenal dengan batiknya yang berwarna cerah.

Lasem menjadi saksi bagaimana Laksmana Cheng Ho mendarat di Pulau Jawa pada abad ke-13 dan memulai sejarah panjang kehidupan Lian Hoa di nusantara. Kota ini menyimpan begitu banyak cerita tentang harmoni kehidupan orang Jawa dengan warga peranakan yang tinggal dalam satu daerah. Mereka kemudian hidup berdampingan dengan memproduksi salah satu batik paling termashyur di Jawa: batik lasem.

Berabad-abad, di balik kehidupan harmonis antaretnis di Lasem, tersimpan sebuah catatan kelam tentang penolakan pernikahan antaretnis di Lasem. Pertunjukan "Putih Hitam Lasem" menyuguhkan kisah ini dari sudut pandang Tionghoa dan Jawa. Kisah apik yang dibawakan jauh dari kesan menggurui karena pada akhirnya intrepretasi kembali kepada penonton.

Seperti dikisahkan di atas, pertunjukan ini mengangkat kisah Lian Hoa. Seorang gadis Tionghoa dari keluarga Tan pemilik pembatikan Padma Putera. Lian bersahabat dengan Ario Adiatmodjo dari keluarga Jawa pemilik pembatikan Banyu Bening. Hubungan keduanya tak direstui masing-masing orang tuanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suatu hari, pembatikan Banyu Bening mendadak riuh. Kebakaran hebat melanda seluruh tempat itu hingga menewaskan Bapak Adiatmodjo, ayah Ario. Kota Lasem gempar karena kemudian tersiar kabar bahwa Lian Hoa yang saat itu ada di pembatikan Banyu Bening lah yang melakukan pembakaran itu.

Lian Hoa menghilang sejak saat itu. Oleh ayahnya, dia dikirim ke Shanghai, Cina, untuk mengobati luka bakar yang juga dia dapat dari kebakaran hebat itu.

Dua belas tahun kemudian, Lian kembali lagi ke Lasem dengan harapan yang baru. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dan, Ario yang masih dia cintai telah menikah dengan Retno, seorang gadis Jawa, karena tak mampu menahan desakan Budhe Nawangsari.

Meskipun secara garis besar pertunjukan ini mengisahkan tentang pertentangan hubungan antaretnis di Lasem, pementasan ini secara tersirat juga menyuguhkan karya-karya mengagumkan. Tata panggung yang elok menggambarkan dengan baik kondisi lasem saat itu, rumah-rumah Joglo, batik-batik lasem berwarna merah, dan tulisan-tulisan Tionghoa. Selain itu, para pemain juga menggunakan batik Lasem dengan corak yang khas pesisir.

"Pementasan ini untuk memperingati Hari Batik Nasional. Kami ingin menunjukkan bahwa Lasem memiliki batik yang luar biasa," ujar Grace Kusno selaku produser eksekutif pementasan "Putih Hitam Lasem".

Dia juga menambahkan perihal tema yang dipilih, hubungan antaretnis di Lasem. "Penting bagi kita untuk tetap menjaga keharmonisan antarsuku," lanjutnya. Kondisi Lasem saat ini, menurut dia, sudah sangat harmonis. Jawa dan Tionghoa hidup rukun tanpa ada gejolak. "Dari Lasem, kita belajar tentang nilai-nilai positif yang menjadi modal persatuan bangsa," tambah Grace.

Akhir pertunjukan, dikisahkan Lian Hoa menerima kenyataan dengan ikhlas. Kini, Ario telah menikah dengan Retno, gadis Jawa pilihan ibunya. Lian bahkan menolak tatkala Ario ingin kembali kepadanya. "Yang sudah disatukan Tuhan tidak boleh manusia pisahkan," katanya kepada Ario.

Kisah "Putih Hitam Lasem" mencoba menunjukkan kepada kita bahwa pergesekan antaretnis, seperti ini menjadi dinamika berbangsa yang harus disikapi secara bijak. Bukan kemudian bergulir panjang dan menyulut kebencian. Mengutip perkataan Lian di ujung pertunjukan, "Perbedaan bukanlah alasan untuk menolak persatuan." rep:c85 ed: dewi mardiani

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA