Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Ekspor Kendaraan Melonjak

Jumat 03 Oct 2014 16:00 WIB

Red:

JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim ekspor kendaraan sepanjang Januari-Agustus tumbuh hingga 28 persen. Pertumbuhan ekspor diprediksi terus berlanjut.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi memprediksi ekspor kendaraan terus meningkat beberapa tahun ke depan. Peningkatan itu didorong produk industri dengan teknologi tinggi yang baru bergeliat.

"Semua produk kendaraan dalam dua tahun terakhir tumbuh sebesar 110 persen. Kecuali Mazda, yang masih di bawah 100 persen," ujar Lutfi di Jakarta, Kamis (2/10).

Menurut Lutfi, pabrik-pabrik kendaraan di Tanah Air baru akan mencapai titik optimal produksi pada akhir 2015. Sehingga, ke depan ekspor kendaraan ini akan terus meningkat.

Sampai Agustus 2014, nilai ekspor dari sektor otomotif mencapai 3,5 miliar dolar AS. Hingga akhir tahun, nilai ekspor tersebut diperkirakan meningkat sampai 4,5 miliar dolar AS. Pertumbuhan yang terus berlangsung diperkirakan membuat industri kendaraan menjadi terbesar ketiga produk ekspor Indonesia pada 2017.

Produksi kendaraan di Tanah Air saat ini masih didominasi jenis multi-purpose vehicle (MPV). Sedangkan, produksi sedan masih minim. "Tapi, kendaraan MPV kita diminati di Timur Tengah, Irak, Iran, Aljazair, bahkan nantinya ke Afrika," kata Lutfi.

Terbukanya pasar MPV membuat Kemendag akan terus mendorong industri kendaraan tersebut. Hal ini agar nilai ekspor juga meningkat.

Selain itu, Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Arryanto Sagala mengatakan, pihaknya terus memerluas pasar terhadap produk industri nasional. Saat ini, sektor industri pertumbuhannya mencapai 6,1 persen. "Pertumbuhan ini sangat bagus," ujarnya.

Selain soal pasar, saat ini pemerintah juga menggenjot green industry atau ramah lingkungan. Perusahaan yang mau menerapkan industri hijau akan mendapatkan insentif dari pemerintah. Insentif tersebut, seperti potongan harga untuk pembelian mesin baru bagi industri kreatif.

Berdasarkan catatan sepanjang 2010-2013, terdapat 235 perusahaan yang menerapkan industri hijau. Tahun ini, jumlah tersebut bertambah 110 perusahaan. Sisi positif dari penerapan industri hijau ini, kata Arryanto, salah satunya bisa menghemat energi sampai 25 persen. Namun, produktivitas meningkat 17 persen.

Secara terpisah, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi mengakui bila ekspor kendaraan jenis sedan masih rendah. Hal itu dipengaruhi minimnya minat pasar dalam negeri untuk membeli kendaraan ini. "Dari pabrik yang ada, baru Toyota yang memproduksi sedan, yakni Vios," katanya.

Untuk ekspor sedan, pasar dalam negeri dinilai perlu mendorong permintaannya terlebih dahulu. Jika pasar dalam negeri baik, sedan bisa diekspor. Namun, permintaan dalam negeri akan kendaraan masih didominasi jenis MPV dan sport utility vehicle (SUV). rep:ita nina winarsih ed: nur aini

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA