Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Dengarkan Qalbumu!

Jumat 03 Oct 2014 12:00 WIB

Red:

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata mental bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga. Maka revolusi mental yang diusung oleh Gubernur DKI Jakarta dan Presiden RI terpilih, Joko Widodo, untuk mengatasi persoalan bangsa Indonesia dimaknai sebagai perubahan yang cukup mendasar yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia Indonesia.

Dari manakah dimulainya? Dari yang sering di sampaikan Jokowi di berbagai kesempatan, maka revolusi mental ini dimulai dari pendidikan karakter sejak Sekolah Dasar (SD). Di SD, pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, dan pen didikan etika sebesar 80 persen, sedangkan ilmu pengetahuan cukup 20 persen.Kemudian secara berjejang katanya, porsi ilmu pengetahuan di tingkatkan pada SMP menjadi 40 persen, sedangkan pendidikan karakter dan budi pekerti menjadi 60 persen. Pada tingkat SMA, pendidikan ilmu pengetahuan ditingkatkan lagi menjadi 80 persen serta pendidikan karakter dan budi pekerti diturunkan menjadi 20 persen.

Konsep pendidikan karakter Jokowi sebagai salah satu wujud dari revolusi mentalnya tersebut sudah tepat. Prof Dr Ahmad Tafsir pada acara Publikasi Kegiatan Qolbu Linguistic Program ming (QLP) untuk Para Guru di Ruang Muallim KH M Syafi`i Hadzami (Audio Visual) Jakarta Islamic Centre (JIC) akhir tahun lalu menyatakan pendidikan di Indonesia memang selama ini sudah salah arah. Profesor yang men dapat julukan Bapak Pendidikan Karakter Indonesia ini melanjutkan pendidikan seharusnya untuk membentuk karakter murid, bukan untuk membuat murid pintar saja. Dan ini sudah ia utarakan dan kampanyekan sejak tahun 80-an.

Akibatnya, sekarang ini, kita sulit untuk men dapatkan satu sosok saja yang layak untuk menjadi pemimpin. Dulu, bangsa ini memiliki banyak stok para pemimpin yang memiliki karakter kuat, seperti Buya HAMKA, M. Natsir, dan lainlain. Prof Dr Ahmad Tafsir adalah orang yang mencetuskan konsep pendidikan karakter di Indonesia.

Menurutnya, karakter merupakan istilah lain dari akhlak. Begitu pentingnya pendidikan karakter ini, sampai-sampai Rasulullah SAW me nya takan bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan kemulian karakter.

William Franklin Graham atau dikenal dengan nama Billy Graham, tokoh kebangunan rohani di Amerika pada abad ke-20 juga manyatakan ketika kekayaan hilang, sebenarnya tiada yang hilang, ketika kesehatan hilang, sebenarnya ada sesuatu yang hilang, ketika karakter hilang, segalanya menjadi hilang.

Namun menurut Prof Dr Ahmad Tafsir be lum ada kata terlambat bagi bangsa Indonesia un - tuk menerapkan konsep pendidikan karakter ini. Pendidikan karakter haruslah dikuatkan di seko - lah-sekolah, terlebih di tengah maraknya kenakalan dan tindakan asusila yang dilakukan para pelajar. Caranya, guru lebih menyedikitkan mengajar, tetapi lebih memperbanyak memberi kan pembiasaan, keteladanan, pemotivasian, dan penegakan peraturan. Dengan demikian, letak keberhasilannya pendidikan karakter ini ada pada guru.

Gurulah yang harus memberikan pembiasaan kepada murid, menjadi teladan, memberikan moti vasi dan bertanggung jawab terhadap penegakan peraturan. Dengan kata lain, guru harus dapat mentransfer nilai dari sekedar transfer pengetahuan. Maka, pendidikan karakter menjadi gagal jika guru tidak memiliki karakter yang baik dan tidak mampu mentranfer nilai kepada muridnya.

Walhasil, jika guru ingin memiliki karakter yang baik, maka ia harus mendatangi sumber dari pembentuk karakter. Namun, di manakah sumber pembentuk karakter itu berada? Stephen R. Covey seorang penulis asal Amerika Serikat adalah penulis buku laris yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People.

The 7 Habits of Highly Effective People mengu las tentang tujuh kebiasaan manusia yang sa ngat efektif mencakup banyak prinsip dasar dari efektivitas manusia. Kebiasaan-kebiasaan ini bersifat mendasar; merupakan hal yang primer. Ketujuh kebiasaan ini menggambarkan inter nalisasi prinsip-prinsip yang benar yang menjadi dasar kebahagiaan dan keberhasilan yang langgeng.

Adapun ketujuh kebiasaan tersebut adalah: Pertama, Proaktif C; kedua, Merujuk Pada Tuju an Akhir ; ketiga, Dahulukan Yang Utama ; keempat, Berpikir Menang/Menang ; kelima, Berusaha Me ngerti Terlebih Dahulu, Baru Dimengerti ; keenam,Wujudkan Sinergi ; dan ketujuh, Asahlah Gergaji.

Kebiasaan ketujuh (Asahlah Gergaji) melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada Tujuh ke bia saan karena ia adalah kebiasaan yang menjadikan semua kebiasaan lain mungkin. Apa yang diasah oleh gergaji tersebut? Yang diasah adalah dimensi fisik,dimensi spiritual,dimensi mental dan dimensi sosial atau emosional.

Namun, Stephen Covey terkejut karena banyak perusahaan dan institusi yang menerapkan tujuh kebiasaan tersebut terlibat skandal, melakukan kecurangan-kecurangan dan kejahatan korporasi serta kemudian kolaps. Ia merasa ada yang kurang dari teori Tujuh Kebiasaan tersebut. Ia kemudian melakukan perenungan dan riset untuk mengevaluasi kembali teori atau paradigma Tujuh Kebiasaan.

Maka, ia menerbitkan buku yang berjudul The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness. Di buku ini, ia menambahkan satu kebiasaan lagi sehingga tujuh kebiasaan menjadi delapan kebiasaan. Apa tambahan yang satu dan penting ini? Ialah Anda harus mendengar suara hati nurani atau qalbu Anda!

Dalam ajaran Islam, kebiasaan kedelapan dari rumusan Stephen Covey ini bukan sesuatu yang baru. Stephen Covey baru menemukannya di Abad ke-21 ini, sedangkan Rasulullah SAW sejak seribu empat ratusan tahun yang lalu telah bersabda,"Mintalah fatwa kepada qalbu (hati nurani) mu!"

Iya, orang sekaliber Stephen Covey saja menya dari bahwa hati nurani atau qalbu merupakan sumber pembentuk karakter yang membawa kesuksesan karir dan bisnis seseorang. Maka, para guru dan kita semua yang ingin baik karakternya, maka haruslah membersihkan qalbunya.

Akhir kalam, sejak tahun 2010, Jakarta Islamic Centre (JIC) telah memiliki diklat Qalbu Linguistic Programming (QLP). Diklat QLP ini bertujuan untuk mengoptimasi peran dan fungsi qalbu di dunia pendidikan dan binsis. Pada tahun 2014 ini, selain mengadakan diklat QLP untuk para guru SMP atau Tsanawiyah dan guru SMA atau Aliyah atau yang sederajat, juga telah membentuk QLP Community untuk mewadahi siapa saja yang berminat mengoptimalkan peran dan fungsi qalbu nya yang bersumber dari ajaran-ajaran Islam dan didukung oleh ilmu pengetahuan dan pendekatan yang modern. Bagi yang berminat bergabung di QLP Community dapat menghubungi 081314165949, 085693806000.

Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Kepala Bidang Pengkajian dan
Pendidikan

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA