Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

TGB: Maksud Pak Jokowi adalah Soal Ganti Rugi Lahan

Senin 18 Feb 2019 03:20 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Politikus Partai Golkar, Muhammad Zainul Majdi (TGB)

Politikus Partai Golkar, Muhammad Zainul Majdi (TGB)

Foto: Republika TV/Surya Dinata
TGB menyebut ganti untung dilakukan sebaik-baiknya sehingga tidak ada konflik agraria

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pihak Joko Widodo (Jokowi) tak setuju calon presiden yang mereka usung disebut berbohong. Jokowi disebut berbicara dalam konteks konflik agraria akibat ganti rugi pembangunan infrastruktur.

"Saya tak setuju pernyataan bahwa pemimpinan kami bohong. Ini perlu diklarifikasi. Pernyataan-pernyataan secara clear disampaikan Jokowi. Jangan begitu caranya seolah-olah menyebarkan kebohongan," ujar Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Moeldoko, pada konferensi pers usai debat di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Ahad (17/2).

Baca Juga

Selain Moeldoko, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi, yang turut mendukung Jokowi, juga merasa tak setuju akan pernyataan tersebut. Ia menyebutkan, pernyataan Jokowi tersebut harus dilihat konteksnya, yakni sedang membicarakan konflik agraria karena masalah ganti rugi.

"Kalau kita mencermati yang Pak Jokowi sampaikan itu respon terhadap ungkapan ganti rugi," ujar TGB pada kesempatan yang sama.

Menurutnya, masalah ganti rugi akibat pembangunan infrastruktur di era Jokowi tidak menimbulkan konflik. Itu karena, untuk menghindari adanya konflik, pemerintah menerapkan bukan ganti rugi, melainkan ganti untung.

"Itu dilakukan sebaik-baiknya sehingga tidak ada konflik agraria," katanya.

Koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN), Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan sebenarnya ada konflik agraria dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga ia menyebut apa yang disampaikan calon presiden nomor urut 01 Jokowi tidak tepat. 

"Tadi kan disebutkan Pak Jokowi tidak ada satupun konflik agraria, padahal konflik agraria di era Jokowi 41 orang tewas dan 546 dianiaya," ujar , pada konferensi pers usai debat di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Ahad (17/2).

Data tersebut ia sampaikan dengan merujuk berita salah satu media nasional daring. Karena itu, Dahnil mengatakan, apa yang dilakukan Jokowi tidak baik untuk publik. Meski begitu Prabowo tak ingin menyudutkan lawannya dalam Debat Capres Kedua tersebut

"Ini tentu tak baik untuk publik. Prabowo sedang berikan contoh, kepemimpinan Leader is Wisdom. Prabowo menahan diri meski disudutkan. Dia menahan untuk tidak mempermalukan orang lain," ungkap Dahnil.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA