Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

TGB: Datu Museng-Maipa Deapati, Kisah Cinta Sangat Romantis

Ahad 25 Mar 2018 05:18 WIB

Rep: M Nursyamsyi/ Red: Endro Yuwanto

Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi bertemu dengan relawan dan Sahabat TGB Sulsel di Hotel Arthama, Makassar, Sulsel, Sabtu (24/3).

Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi bertemu dengan relawan dan Sahabat TGB Sulsel di Hotel Arthama, Makassar, Sulsel, Sabtu (24/3).

Foto: Republika/ Muhammad Nursyamsyi
Ini jadi bukti hubungan antara Sulsel dengan NTB sudah terjalin sangat lama.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Kisah cinta mengharukan antara Datu Museng dan Maipa Deapati begitu populer di kalangan masyarakat Makassar dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Banyak yang menyebutkan kisah keduanya sebagai 'Romeo dan Juliet' versi Indonesia dengan akhir cerita yang tidak kalah menyayat hati.

Cerita tentang Datu Museng, putra bangsawan kerajaan Gowa dan Maipa Deapati, putri bangsawan kerajaan Sumbawa, kerap menjadi kisah yang diceritakan para orang tua kepada anak-anaknya, termasuk juga Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi.

Gubernur NTB itu mengaku kerap mendengar cerita romantis yang mewarnai hubungan antara kedua kerajaan pada masa silam.

"Kami biasa dengar di NTB tentang Datu Museng dengan Maipa Deapati, antara seorang bangsawan dari Gowa dengan putri kerajaan Sumbawa, itu kisah cinta yang sangat romantis tetapi juga tragis," ujar TGB saat bertemu warga Makassar, Sulsel, Sabtu (24/3).

Kata TGB, cerita rakyat ini menjadi bukti bahwa hubungan antara Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan NTB sudah terjalin sangat lama. Tak hanya seperti di cerita tersebut, hubungan NTB dengan Sulsel juga terjadi pada sektor perdagangan, kultural, hingga pemerintahan.

"NTB dengan Sulsel itu banyak hubungan historis, tadi di Masjid Raya (Makassar) kita diingatkan, menara bagian dari kontribusi Sultan Sumbawa," ucap TGB.

TGB menyampaikan, terdapat dua pola perdagangan yang ada di NTB, yakni koneksi yang mengarah ke Surabaya dari Pulau Lombok, dan jalur Makassar bagi Pulau Sumbawa yang didasari letak geografis kedua pulau besar di NTB tersebut.

"Jadi artinya secara sejarah dalam sekali hubungannya, bahkan kalau bicara tentang tradisi perdagangan di NTB, saya sampaikan ini menegakkan kerja sama dan hubungan ekonomi, kultural, keagamaan, pemerintahan karena dulu kesultanan Bima bagian dari kesultanan Gowa, sampai sekarang masih terawat," kata TGB menambahkan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA