Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

IDI Sebut Tingkat Fatalitas Virus Corona Rendah

Jumat 24 Jan 2020 14:04 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Pusat Wuhan merawat pasien yang diduga terpapar virus corona di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (23/1).

Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Pusat Wuhan merawat pasien yang diduga terpapar virus corona di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (23/1).

Foto: The Central Hospital of Wuhan via Weibo/Handout via REUTERS
IDI imbau masyarakat jangan panik dengan virus Corona dan tetap jaga kondisi tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta masyarakat untuk tidak panik berkenaan dengan kemunculan sejumlah infeksi virus Corona di beberapa negara terlebih China. IDI mengimbau masyarakat untuk memeriksakan ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan analisis lebih lanjut.

"Waspada boleh tapi tidak boleh panik karena di Indonesia belum terdeteksi satupun kasus, makanya jangan panik," kata Ketua IDI Daeng M Faqih di Jakarta, Jumat (24/1).

Baca Juga

Dia mengungkapkan, berdasarkan penelitian mendapati bahwa tingkat fatalitas virus korona kurang dari lima persen. Besarannya, dia mengatakan, berbeda dengan Sindrom Pernapasan Akut Berat (SARS), flu burung atau wabah penyakit lainnya.

Dia mengatakan, mengingat tingkat fatalitas virus yang rendah maka masyarakat sebaiknya tetap menjaga kondisi tubuh. Dia mengungkapkan, fisik yang sehat akan menghasilkan antibodi yang baik bagi ketahanan tubuh terhadap serangan virus.

"Karna sebenarnya virus bisa sembuh dengan sendirinya asal ketahanan tubuh kita baik," katanya.

Kendati, dia mengatakan, yang perlu dimengerti masyarakat adalah karena ini virus baru makanya belum ditemukan obat. Dia melanjutkan, kedokteran juga belum menemukan pencegahan spesifik dengan imunisasi. Informasi dari para ahli bahwa percobaan untuk imunisasi baru akan diadakan pada tiga bulan mendatang.

Secara ringkas, dia meminta masyarakat memahami gejala yang muncul berkenaan dengan penyakit tersebut. Disamping itu, Daeng mengimbau agar publik meningkatkan gaya hidup sehat dengan menjaga kebersihan secara rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung dan mata.

Dia juga meminta warga untuk mencuci tangan setidaknya selama 20 detik setelah memegang instalasi umum. Setelahnya, mengelap tangan usai dicuci menggunakan handuk atau kertas sekali pakai.

"Jika tidak ada fasilitas cuci tangan maka dapat menggunakan sabitizer alkohol 70 hingga 80 persen," kata Daeng lagi.

Dia juga meminta masyarakat untuk menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika bersin. Hal itu, sambung dia, untuk mengurangi penularan penyakit yang gejalanya muncul mirip dengan flu.

"Gunakan masker dan segera berobat ke fasilitss pelayanan kesehatab ketika memiliki gejala flu disertai sesak nafas. Tapi tetap jangan panik," katanya.

Seperti diketahui, Pemerintah Cina mengisolasi kota Wuhan sebagai daerah yang diduga sebagai asal atau pusat penyebaran virus Korona. Ini mengingat bahwa virus telah menginveksi sekitar 600 warga serta menewaskan 17 orang di dalam kota yang berpopulasi 11 juta penduduk tersebut.

Beberapa ilmuwan menduga virus mirip SARS yang baru ditemukan di Cina berasal dari ular. Kuman yang dimaksud, dijuluki 2019-nCoV untuk saat ini adalah jenis corona virus.

Pemerintah Indonesia juga terus memperketat pengawasan terhadap para penumpang pesawat baik WNI maupun WNA yang tiba dari China. Hal tersebut dilakukan dengan memasang pemindainsuhu tubuh di Bandara Soekarno-Hatta.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA